Mempelai Anak Domba

144

Semua orang yang pernah membaca kitab Wahyu mengakui pemakaian bahasa kiasan, lambang, dan simbol di dalamnya. Sebagian besar bahasa kiasan, lambang, dan simbol yang digunakan sudah familiar bagi penulis kitab dan juga para pembacanya. Maka, kita tidak boleh menafsirkannya secara bebas sesuai dengan apa yang kita inginkan. Pembaca dan penafsir perlu memahami apa yang mungkin dimaksudkan oleh Yohanes. Buku Mempelai Anak Domba mudah-mudahan dapat membantu setiap orang yang ingin membaca, mendengar, menafsir, dan memaknai kisah-kisah pengalaman penglihatan Yohanes.

Dari mana sumber bahasa kiasan dan simbol yang digunakan oleh Yohanes? Sekurang-kurang ada empat sumber utama. Pertama, Yohanes memakai Perjanjian Lama. Kedua, Yohanes memakai kitab-kitab Yahudi yang ditulis dalam periode antara Perjanjian Lama dan zaman Yohanes sendiri, suatu periode yang dikenal sebagai masa Bait Kedua (538 SM – 70 M), teristimewa tulisan atau bagian tulisan yang dianggap sebagai tulisan apokaliptik seperti 1 Henokh, 2 Henokh, 4 Ezra, 2 Barukh, 3 Barukh, Wahyu Abraham, dan Wahyu Zefanya. Ketiga, Yohanes menggunakan bahasa kiasan dan simbol yang berasal dunia Yunani-Romawi tempat di mana ia dan para pembacanya hidup. Keempat, Yohanes menggunakan bahasa kiasan dan lambang yang digunakan oleh gereja perdana.

Buku Mempelai Anak Domba berfokus pada empat hal. Pertama, tiga tanda di surga (Why. 12:1 – 16:21). Kedua, pengalaman ketiga Yohanes diliputi oleh kuasa Roh (Why. 17:1 – 20:15). Ketiga, pengalaman keempat Yohanes diliputi oleh kuasa Roh (Why. 21:1 – 22:5). Keempat, epilog (Why. 22:6-21).

Alfons Jehadut

SHARE