Bagi Bangsa dan Negara Tercinta

Kamis, 17 Agustus 2017 – Hari Raya Kemerdekaan Indonesia

107

Matius 22:15-21

Kemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

***

Teks Injil yang berbicara tentang bakti rakyat kepada negara tidak banyak. Karena itu, Mat. 22:15-21 akan sering kita dengar dalam setiap perayaan hari kemerdekaan. Pemerintah, terutama para petugas pajak, sudah pasti menggemari perikop ini, tetapi baiklah dipahami bersama bahwa Yesus di sini tidak terutama mengurusi masalah perpajakan. Ada hal lain yang ingin disampaikan-Nya, sebab misi utama Yesus adalah mewartakan Kerajaan Surga.

Yesus dikisahkan terlibat dalam perdebatan yang menegangkan dengan pihak lawan. Lawan Yesus kali ini merupakan kombinasi yang kurang lazim, yakni murid-murid orang Farisi dan para pendukung Herodes. Yang satu kelompok keagamaan, yang lain kelompok politis. Keduanya bersatu untuk sementara karena punya kepentingan yang sama: menjatuhkan Yesus. Mereka bermaksud meletakkan Yesus di posisi yang sulit. Apa pun jawaban Yesus pasti tidak akan memuaskan salah satu dari dua kelompok yang bertentangan itu.

“Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” tanya mereka. Pajak yang dipermasalahkan adalah pajak perorangan yang harus dibayarkan oleh setiap orang Yahudi dewasa di Yudea kepada kaisar. Menurut skenario, Yesus akan menjawab “boleh” atau “tidak boleh.” Jika Yesus menjawab “boleh,” Ia jatuh ke tangan kaum Farisi yang akan menuding sang Mesias sebagai pendukung penjajah Romawi. Jika Yesus menjawab “tidak boleh,” para pendukung Herodes akan bersorak, lalu melaporkan Yesus kepada pemerintah sebagai pemberontak.

Sayang seribu sayang, kelompok Farisi maupun para pendukung Herodes sama-sama gigit jari. Yesus tidak terjebak. Ia meminta mereka menunjukkan mata uang yang dipakai untuk membayar pajak tersebut, yakni mata uang perak keluaran Romawi yang bergambar Kaisar Tiberius. Setelah itu, Yesus pun menyampaikan pernyataan-Nya yang terkenal, “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Lebih dari sekadar jawaban atas pertanyaan soal pajak, pernyataan itu memiliki makna yang lebih mendalam yang mesti dipahami dalam konteks perbedaan gagasan tentang Mesias dalam benak orang Yahudi dengan yang dipikirkan Yesus. Dalam pengharapan orang Yahudi, Mesias akan datang sebagai seorang raja agung yang akan memimpin mereka berperang melawan penjajah Romawi. Ia akan bersikap keras terhadap penjajah dan tentu saja tidak sudi membayar pajak kepada mereka. Namun, Yesus bukan Mesias seperti itu. Urusan pajak tidak ada hubungannya dengan status-Nya sebagai Mesias. Kalau harus dibayar, ya dibayar saja. Uang itu berasal dari kaisar (karena gambarnya wajah kaisar), jadi sudah sewajarnya jika dikembalikan kepadanya.

Yang terpenting dari pernyataan itu justru terletak di bagian kedua: “(Berikanlah) kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Yesus menuntut agar orang Yahudi menunjukkan kesetiaan mereka kepada Allah. Konkretnya, mereka harus menerima Kerajaan Allah yang hadir dalam diri-Nya. Mereka juga diminta mengakui bahwa Yesus adalah Mesias yang datang dari Allah. Sayangnya, dalam kenyataan, mereka malah berusaha menjatuhkan Yesus. Dengan demikian jelas bahwa orang-orang itu tidak peduli pada kehendak Allah. Mereka tidak memberikan kepada Allah apa yang wajib mereka berikan kepada Allah.

Karena dibacakan pada perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia, bagian yang lebih sering menjadi perhatian adalah soal kewajiban kepada kaisar, yakni dengan mengajak kita semua merenung sejauh mana kita sudah berkontribusi bagi bangsa dan negara kita tercinta. Sudah sekian lama kita merdeka. Anjuran Yesus untuk berbakti terhadap negara dan menghormati pemerintah mestinya lebih mudah dilaksanakan, sebab kita tidak sedang dijajah dan diperintah oleh bangsa lain.

Namun, sungguh aneh bahwa belakangan ini sering muncul orang yang gemar mengganggu jalannya pemerintahan dan stabilitas negara. Apa pun yang dilakukan pemerintah selalu saja salah di mata mereka. Sejumlah pihak bahkan menghendaki agar dasar negara kita diganti. Dasar negara yang sudah terbukti mempersatukan penduduk Indonesia yang beraneka ragam mau diganti dengan yang lain, yang hanya mengakomodir kepentingan kelompok tertentu saja.

Karena itu, meskipun pada hari ini kita berteriak “merdeka,” perjuangan kita belumlah selesai. Mari kita lawan siapa saja yang hendak menghancurkan hal-hal baik yang sudah kita raih bersama. Jayalah Republik Indonesia!