Filipus dan Natanael

Kamis, 24 Agustus 2017 – Peringatan Wajib Santo Bartolomeus

396

Yohanes 1:45-51

Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

***

Meskipun berbeda dengan Injil-injil Sinoptik, kisah panggilan dalam Injil Yohanes dengan caranya sendiri sama-sama hendak menampilkan orang-orang yang tertarik mengikuti Yesus dalam karya pelayanan-Nya di tengah masyarakat. Setelah Andreas dan Simon Petrus, bergabunglah pula Filipus dan Natanael bersama-Nya.

Filipus dipanggil langsung oleh Yesus (Yoh. 1:43-44). Meskipun demikian, perhatian kita agaknya mesti tertuju kepada Natanael, sebab kisah tentangnya disajikan lebih detail. Natanael mulanya bersikap skeptis menanggapi kesaksian Filipus. “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” demikian ia bertanya.

Secara teologis, keraguan Natanael kiranya justru berfungsi sebagai koreksi bagi kesalahpahaman Filipus. Filipus memandang Yesus sebagai “anak Yusuf dari Nazaret.” Penginjil Yohanes dengan ini mau menegaskan bahwa Yesus harus dilihat lebih dari sekadar asal-usul historis-Nya. Dia itu lebih dari sekadar anak Yusuf; Dia itu lebih dari sekadar orang Nazaret.

Sikap Natanael berubah setelah ia bertatap muka dengan Yesus. Ia terkesan, sebab Yesus  mengenal dirinya dengan baik, padahal mereka sebelumnya tidak saling kenal. Merasa tersentuh dan tersapa, Natanael akhirnya tidak sungkan untuk mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Raja orang Israel.

Pengalaman Natanael menjadi kabar gembira bagi kita, sebab di situ dinyatakan bahwa Tuhan mengenal diri kita dengan baik, sampai ke relung hati yang terdalam. Dia tahu bahwa setiap insan punya kelebihan dan kelemahan. Karena itu, kalau Dia memanggil kita untuk bekerja bersama-Nya, katakanlah, “Siap!” Kelemahan bukan alasan, sebab di tangan Tuhan (dan kalau kita mau berusaha), kelemahan dengan segera akan berubah menjadi kekuatan.