Mereka yang Duduk di Kursi Musa

Sabtu, 26 Agustus 2017 – Hari Biasa Pekan XX

1176

Matius 23:1-12

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

***

Setelah sejumlah perdebatan antara Yesus dan lawan-lawan-Nya (bab 21-22), Matius merangkum itu semua dengan kecaman Yesus terhadap ahli-ahli Taurat dan orang Farisi (bab 23). Bacaan Injil kita hari ini dengan demikian merupakan semacam puncak perseteruan antara Yesus dan pihak-pihak yang menolak kehadiran-Nya. Perikop ini sekaligus merupakan persiapan bagi nubuat Yesus mengenai kehancuran Bait Allah (bab 24), yang berujung pada penangkapan atas diri-Nya (bab 26).

Yesus memperingatkan para pendengar-Nya agar mewaspadai ahli-ahli Taurat dan orang Farisi.  Pada masa itu, orang-orang inilah yang menduduki kursi Musa, dalam arti memegang kekuasaan dalam hal pengajaran Taurat. Dalam arti tertentu, mereka juga berpengaruh dalam dunia politik dan kehidupan masyarakat luas. Soal berbicara dan mengajar, ahli Taurat dan orang Farisi adalah ahlinya. Sayang, mereka tidak melaksanakan apa yang mereka ajarkan. Karena itu, Yesus berkata, “Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka.”

Perbuatan buruk orang-orang itu kemudian dibeberkan oleh Yesus. Menurut Yesus, mereka ini: (1) Gemar membebani orang dengan macam-macam kewajiban, tetapi mereka sendiri tidak mau melakukannya; (2) Melakukan kesalehan hanya agar dilihat orang; (3) Haus akan pujian dan hormat. Yesus menegaskan bahwa murid-murid-Nya harus berlaku sebaliknya. Dua sikap ditekankan oleh-Nya: Para murid harus bersikap rendah hati dan siap sedia melayani orang lain.

Kecaman Yesus dalam perikop ini di satu sisi tragis, di sisi lain provokatif. Disebut tragis karena sebagai tokoh-tokoh agama, ahli-ahli Taurat dan orang Farisi semestinya memberi contoh yang baik kepada umat bagaimana bertingkah laku sesuai dengan kehendak Allah. Yang terjadi malah sebaliknya, sehingga umat diminta untuk tidak meneladani cara hidup orang-orang itu. Disebut provokatif karena perkataan Yesus ini tentu saja akan membangkitkan kemarahan pihak lawan. Saat itu derajat ketegangan antara Yesus dan tokoh-tokoh Yahudi lainnya memang hampir mencapai titik didih.

Perikop ini sangat relevan bagi tokoh-tokoh agama masa kini. Penampilan yang saleh harus diimbangi dengan hati yang bersih. Khotbah dari atas mimbar tentang pentingnya berbuat baik jangan hanya ditujukan untuk umat, tetapi juga untuk diri sendiri. Bagaimana mungkin seorang tokoh agama meminta umat bersikap sabar, sementara ia sendiri suka marah-marah; meminta umat saling mengasihi, sementara ia sendiri menciptakan permusuhan di mana-mana; meminta umat untuk rajin bekerja, sementara ia sendiri kalau tidur sampai susah dibangunkan? Perkataan dan perbuatan harus sejalan. Orang yang antara perkataan dan perbuatannya tidak selaras disebut orang munafik. Golongan orang seperti inilah yang dimaksud dalam peribahasa “tong kosong nyaring bunyinya.”