Siap Setiap Saat

Kamis, 31 Agustus 2017 – Hari Biasa Pekan XXI

161

Matius 24:42-51

“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

“Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.”

***

Para siswa pasti tidak suka dengan ulangan mendadak, demikian pula para pegawai tidak senang dengan yang namanya sidak, inspeksi mendadak. Ulangan dan inspeksi yang serba mendadak menuntut mereka harus selalu siap setiap saat. Mereka tidak bisa bersantai-santai dan baru serius belajar atau bekerja menjelang “penilaian yang terjadwal.”

Namun, entah kita setuju atau tidak dengan “penilaian mendadak,” kedatangan hari Tuhan akan serba tidak terduga-duga. Kita tidak tahu kapan Anak Manusia akan datang, baik pada akhir zaman maupun saat Dia memanggil kita satu per satu melalui kematian. Kita hanya diminta untuk berjaga-jaga.

Sikap manusia terhadap kedatangan Anak Manusia ini diumpamakan oleh Yesus dengan dua sikap hamba yang berbeda. Hamba pertama menerima tanggung jawab yang dipercayakannya dan menjalankannya dengan setia. Ketika tuannya pulang, ia didapati sedang mengerjakan tugasnya. Maka tuannya akan memberinya tanggung jawab yang lebih besar. Dalam hal ini kita bisa mengingat tokoh Yusuf di rumah Potifar yang menjalankan tugasnya dengan baik, sehingga kemudian dia mendapat kepercayaan besar dari tuannya.

Sementara itu, mengetahui bahwa tuannya tidak pulang-pulang, hamba kedua mulai bertindak semaunya sendiri. Dia memukuli hamba-hamba yang lain dan kemudian bermabuk-mabukan dengan teman-temannya. Sikap bermabuk-mabukan yang biasanya dilakukan pada malam hari bertentangan dengan sikap anak-anak terang yang selalu berjaga-jaga. Hamba kedua ini salah memperhitungkan, sebab ternyata tuannya pulang pada saat dia tidak sedang mengerjakan tugas, bahkan dalam kondisi mabuk. Tuannya itu marah, lalu membunuhnya!

Kedua sikap hamba yang berbeda tersebut mengajak kita untuk menyadari bahwa kedatangan Anak Manusia memang serba tidak terduga. Kita diajak untuk senantiasa berjaga-jaga. Secara konkret sikap berjaga-jaga ini dilakukan dengan mengerjakan tugas dan tanggung jawab kita dengan setia. Sementara berlaku keras dan sewenang-wenang terhadap sesama, tidak mengerjakan tugas dengan tekun, dan terbuai oleh kemabukan merupakan lawan dari sikap berjaga-jaga.

Tidak seorang pun yang tahu kapan Tuhan Yesus akan datang pada akhir zaman maupun saat kematian kita masing-masing. Sikap bijak menantikannya adalah dengan berjaga-jaga seperti hamba pertama. Marilah kita menjalankan tugas yang dipercayakan kepada kita dengan setia. Tekun berdoa dan aktif dalam pelbagai kegiatan rohani, namun melalaikan tugas dan tanggung jawab dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, dan masyarakat bukanlah sikap berjaga-jaga yang tepat. Hamba pertama dipuji tuannya justru karena mengerjakan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Walaupun mungkin tugas yang menjadi bagian kita kurang keren dan tidak dilihat oleh pimpinan, kita diajak menjalankannya dengan setia. Dengan demikian kita siap setiap saat kapan pun Tuhan hendak “menginspeksi dan memberi penilaian” kepada kita.