Memendam Talenta

Sabtu, 2 September 2017 – Hari Biasa Pekan XXI

263

Matius 25:14-30

“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

***

Kata “talenta” kerap diidentikkan dengan bakat pembawaan alami seseorang, sehingga orang yang memiliki banyak bakat disebut sebagai orang yang “multitalenta.” Akan tetapi, bila dikaitkan dengan perumpamaan dalam bacaan Injil hari ini, memang setiap orang dianugerahi bakat dalam jenis dan jumlah yang berbeda oleh Tuhan, ibaratnya ada yang 5, 2, dan 1 talenta. Namun, dalam perumpamaan ini, masing-masing orang menerima jumlah talenta sesuai dengan kesanggupan untuk menjalankannya. Berbeda dengan itu, kita saat lahir tidak pernah ditanyai oleh Tuhan tentang jenis dan jumlah bakat kita. Bahkan orang harus terus mengasahnya sehingga kemudian merasa memiliki “bakat terpendam” yang belum banyak digali dan dikembangkan.

Jumlah talenta yang diterima ketiga hamba itu berbeda-beda. Yang menentukan bukan kepercayaan sang tuan, melainkan kesanggupan masing-masing hamba untuk menjalankan uang. Satu talenta memang lebih kecil dari lima talenta, namun tetap saja itu bukan jumlah yang sedikit. Nilainya setara dengan 6.000 kali upah buruh per hari (waktu itu satu dinar). Kalau misalnya saja upah buruh per harinya 75 ribu rupiah, maka nilainya mencapai 450 juta rupiah. Jumlah sedemikian tidak sedikit, dan bisa untuk modal usaha. Besarnya nilai modal yang diberikan oleh sang tuan menggambarkan besarnya anugerah Tuhan.

Ketiga hamba sama-sama telah menyanggupi untuk menjalankan talenta dari tuan mereka. Dua hamba pertama pergi dan menjalankan uang tuannya itu. Namun, hamba ketiga rupanya seorang penakut. Dia tidak mau mengambil risiko dengan usaha itu. Daripada menjalankan uang itu dengan risiko bisa rugi, dia mencari rasa aman dengan memendam uang tuannya itu di tanah sehingga dapat mengembalikannya dengan utuh. Dia berpikir bahwa tuannya seorang yang kejam, yang menuai di tempat dia tidak menabur, yang begitu saja akan mengambil hasil kerja para hambanya. Bila usahanya gagal, tuannya akan semakin marah. Demikian pikir hamba ketiga.

Ternyata sang tuan tidak seperti yang ia duga. Ketika tuan itu pulang dan mengadakan perhitungan dengan mereka, dia memuji dua hamba pertama yang baik dan setia mengembangkan talenta sehingga menghasilkan laba. Mereka telah setia dalam perkara kecil, maka akan diberi tanggung jawab dalam perkara besar dan turut berbahagia bersama tuannya. Di sini kita ingat akan kisah Musa dan Daud, yang awalnya bekerja sebagai gembala domba, namun kemudian diberi tanggung jawab memimpin umat Israel.

Sementara itu, hamba ketiga dikecam karena jahat dan malas, lebih tepatnya penakut untuk mengambil risiko. Saat perhitungan, dia mengembalikan uang tuannya. Dia tidak menjalankan kesanggupannya dan mengecewakan sang tuan. Dia sudah berpikiran buruk tentang tuannya, sehingga sang tuan pun bersikap tegas padanya. Satu talenta miliknya itu diambil dan diberikan kepada hamba pertama. Si hamba sendiri dicampakkan dalam kegelapan.

Penegasan Yesus di ayat 29 agak menyulitkan, “Siapa yang memiliki, akan diberi lagi sampai berkelimpahan, sementara yang tidak memiliki, justru akan diambil apa yang ada padanya.”  Memiliki apa dan akan diberi apa? Hamba pertama memiliki sikap mewujudkan kesanggupan menjalankan uang, ketekunan menjalankan uang, dan juga keberanian mengambil risiko. Karenanya dia menerima tambahan talenta lagi, sehingga sangat berkelimpahan. Dalam dunia bisnis hal demikian berlaku. Apakah hal ini juga berlaku dalam pengalaman keseharian kita?