Mempersembahkan Diri kepada Allah

Minggu, 3 September 2017 – Hari Minggu Biasa XXII/Hari Minggu Kitab Suci Nasional

272

Roma 12:1-2

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

***

Paulus menyampaikan nasihat kepada jemaat kristiani yang tinggal di Roma supaya mereka mempersembahkan tubuh mereka kepada Allah karena Allah telah bermurah hati kepada mereka.

Dalam ibadah kepada Allah, orang Yahudi membakar daging binatang (kambing, domba, dan sapi) di atas mezbah sebagai kurban persembahan kepada Allah. Dengan cara demikian, daging binatang itu diserahkan kepada Allah, dan diyakini bahwa Allah berkenan menerimanya. Orang Yahudi percaya bahwa Allah telah memberikan semua yang mereka perlukan untuk kehidupan mereka. Karena itu, jika menyampaikan persembahan kepada Allah, mereka akan memilih binatang terbaik yang mereka miliki. Mereka tidak akan mempersembahkan binatang yang cacat atau kurus.

Paulus tentu tidak meminta para anggota jemaat untuk membakar diri mereka sebagai persembahan kepada Allah. Ketika seorang beriman mempersembahkan diri kepada Allah berarti ia menyerahkan seluruh diri kepada Allah sehingga menjadi milik-Nya. Persembahan yang diserahkan kepada Allah ini harus hidup, kudus, dan berkenan kepada-Nya.

Karena telah menjadi milik Allah, Allah bebas mempergunakannya menurut kehendak hati-Nya. Dengan cara demikian, orang beriman menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah dan membiarkan Allah mempergunakan dirinya untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Ia tidak menjadi persembahan yang mati dibakar di atas mezbah, tetapi menjadi persembahan yang hidup.

Setelah dipersembahkan kepada Allah, orang beriman menjalani kehidupan yang kudus, yakni dengan melakukan melakukan kehendak Allah. Dengan demikian, jemaat menyampaikan persembahan yang menyenangkan Allah. Paulus menegaskan bahwa kehidupan yang demikian inilah yang dapat disebut sebagai ibadah sejati kepada Allah. Inilah cara yang pantas untuk menyembah Allah.

Karena telah mempersembahkan diri kepada Allah dan menjadi milik-Nya, jemaat diingatkan agar tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Ini tidak berarti bahwa orang beriman harus mengasingkan diri dari dunia. Jemaat harus tetap hidup di dunia ini, tetapi jangan sampai mereka mengikuti cara hidup dunia yang dikuasai oleh dosa. Ketika menjadi orang yang percaya kepada Kristus, jemaat harus membiarkan Allah memperbarui akal budi mereka. Dengan akal budi yang telah diperbarui oleh Allah, mereka akan dapat memahami kehendak Allah, yaitu yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya.

***

Orang yang percaya kepada Allah mempersembahkan hidupnya kepada Allah. Ia membiarkan Allah mempergunakan seluruh dirinya untuk melakukan kehendak-Nya. Ia berharga di hadapan Allah maka ia senantiasa menjaga dirinya agar tidak dikuasai oleh dosa.