Dahulu dan Sekarang

Sabtu, 9 September 2017 – Hari Biasa Pekan XXII

118

Kolose 1:21-23

Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.

***

Paulus mengingatkan jemaat Kolose pada kehidupan mereka sebelum mengenal Kristus dan percaya kepada-Nya. Mereka dahulu hidup jauh dari Allah dan bertindak sebagai orang-orang yang memusuhi Dia. Dengan hati dan pikiran, mereka menentang Allah. Mereka menolak untuk mengenal Dia dan untuk mengikuti apa yang dikehendaki-Nya. Karena hati dan pikiran mereka menentang Allah, mereka pun bertindak sekehendak hati, bahkan melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat. Mereka tidak berbakti kepada Allah dan tidak mengasihi sesama. Dengan cara demikian, mereka bertindak sebagai musuh Allah.

Namun, Allah telah memperdamaikan mereka dengan Dia sehingga mereka tidak lagi menjadi musuh-Nya dan sekarang menjadi orang-orang yang dikasihi-Nya. Bagaimana Allah melakukan hal itu? Ia telah mengutus Kristus, Putra-Nya, untuk mempersembahkan diri sebagai kurban penghapus dosa. Karena dosa mereka telah dihapus oleh kurban Kristus, mereka telah menjadi kudus dan tidak bercela di hadapan Allah. Mereka telah menjadi orang-orang yang bersih dari dosa sehingga layak untuk berdiri di hadapan-Nya.

Mengingat semua yang telah dilakukan Allah dalam diri Kristus bagi mereka, Paulus mengingatkan jemaat agar bertekun dalam iman, tetap teguh, dan tidak terguncang. Mereka harus tetap menjalani kehidupan di dunia ini sampai Allah memanggil mereka ke dalam kehidupan abadi. Selama hidup di dunia ini banyak tantangan dan godaan yang harus mereka hadapi. Misalnya saja penderitaan dan daya tarik dunia. Dalam situasi seperti ini, mereka harus tetap berpegang pada kabar sukacita yang dibawa oleh Kristus. Mereka telah mendengarnya dan mereka harus tetap berpegang padanya sampai mereka menghadap Allah. Pengharapan akan kehidupan abadi yang dijanjikan oleh Kristus itulah yang harus menjadi pegangan dan penghiburan mereka selama menjalani hidup di dunia  ini.

Paulus sendiri menghendaki agar semua manusia mendengar berita tentang keselamatan yang abadi itu dan menjadi percaya. Karena itulah, ia rela menjadi pelayannya dan pergi ke banyak negeri untuk memberitakannya.