Dipanggil untuk Bahagia

Rabu, 13 September 2017 – Peringatan Wajib Santo Yohanes Krisostomus

143

Lukas 6:20-26

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”

***

Panggilan untuk menjadi murid Yesus adalah panggilan kepada kebahagiaan. Menjadi murid Yesus adalah menjadi orang bahagia! Lalu ukurannya apa? Ukuran bahagia sebagai murid Yesus adalah mengikuti dan menjalani jalan yang ditempuh Yesus. Namun, kita harus menyadari bahwa jalan yang ditempuh Yesus bukanlah jalan kemudahan, melainkan jalan yang penuh tantangan dan risiko. Jalan Yesus adalah jalan yang melulu mengandalkan Bapa, Sang Pemberi Hidup. Dialah yang memilih, memanggil, dan mengutus Yesus.

Kita ambil bagian dalam jalan tersebut. Siapkah kita untuk hidup dalam kemiskinan, kelaparan, dukacita, dibenci, dikucilkan, dan difitnah orang lain? Ya, betapa indah dan agung pertolongan Allah kepada orang-orang kecil. Dalam dukacita, Allah memberikan penghiburan. Ketika mengalami kebencian dan penolakan, Allah hadir untuk merengkuh da membela kita. Karya Allah benar-benar indah dan mengagumkan!

Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Kita yang memutuskan diri untuk menjadi murid Yesus, sudahkah kita gembira menempuh perjalanan bersama Dia? Bersama Yesus, semestinya kita harus gembira. Sebab, di tengah ketidakberdayaan dan ketidakmampuan kita, kita tidak sendirian. Kita memiliki Bapa yang sanggup menolong dan memampukan kita mengikuti jejak Yesus.

Jalan yang ditempuh Yesus adalah jalan pengorbanan, namun penuh iman dan kegembiraan. Mari kita menempuhnya dengan senyum dan gembira, agar hidup kita menjadi berkat dan sukacita bagi dunia.