Menipu Allah dengan Tidak Membayar Persepuluhan (3)

“Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: ‘Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?’ Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!” (Mal. 3:8)

552

Mengapa Allah merasa tertipu?

Maleakhi bukan nama seorang nabi.[1] Kitab Maleakhi memuat nubuat-nubuat dari seorang nabi yang namanya tidak diketahui. Judul kitab sendiri diambil dari Mal. 3:1, yakni maleakhi yang artinya “utusan-Ku.” Nubuat-nubuat dalam kitab ini berlatar belakang situasi masyarakat Israel tahun 470-440 SM, kira-kira lima puluh tahun sesudah selesainya pembangunan Bait Allah yang kedua, kurang lebih sama dengan masa pelayanan Ezra dan Nehemia.[2]

Pada masa itu, pasca pembuangan Babel, orang Israel berada di bawah pemerintahan bangsa Persia. Situasi masyarakat tampaknya tidak menggembirakan. Semangat pembaruan yang dikobarkan Hagai dan Zakharia pada saat pembangunan kembali Bait Allah sudah lama pudar. Banyak orang bersikap pesimis dan acuh tak acuh. Israel tidak lagi memiliki raja. Penjajah Persia menunjuk orang tertentu sebagai pemimpin mereka. Yang lebih banyak berperan dalam kehidupan orang Israel sehari-hari adalah para imam. Sayangnya imam-imam ini banyak yang tidak bertanggung jawab (Mal. 2:1-9), sehingga hidup masyarakat jadi ikut berantakan. Pelanggaran dan penyelewengan terjadi di berbagai bidang (Mal. 1:6-14; 2:10-16). Situasi diperparah dengan kekeringan dan bencana kelaparan yang menimpa mereka (Mal. 3:10-11).

Kitab Maleakhi pada pokoknya menampilkan pertentangan antara Tuhan di satu pihak dan orang Israel di pihak lain. Di pihak orang Israel, ada dua kelompok yang disorot, yakni para imam dan kalangan umat. Iman mereka semua kepada Tuhan sedang goyah. Bait Allah yang baru sudah berdiri, upacara dan peribadatan pun sudah kembali berlangsung di sana. Namun, ketiadaan iman membuat semuanya tidak berarti, sebab para imam malah mengajarkan kesesatan (Mal. 2:8), sementara umat “mengerjai” Tuhan dengan mempersembahkan binatang-binatang cacat sebagai kurban (Mal. 1:8). Teguran keras dari Tuhan pada akhirnya mendatangi mereka melalui sang nabi, antara lain di Mal. 3:6-12 yang berbicara tentang pelanggaran di bidang ritual.

Dalam perikop ini, pertama-tama Tuhan menegaskan bahwa Ia tidak pernah berubah (Mal. 3:6; bdk. 1:2). Ia selalu mengasihi Israel dan selalu setia memegang teguh perjanjian yang ditetapkan-Nya. Kontras dengan itu, sudah sejak dahulu kala Israel selalu bersikap tidak setia (Mal. 3:7). Dari waktu ke waktu ikatan suci antara bangsa itu dan Tuhan mereka nodai dengan berbagai pelanggaran dan pengkhianatan. Hal yang sama terjadi pada saat itu. Apa yang kemudian dilakukan Tuhan? Seperti yang sudah-sudah, ia mengimbau orang Israel untuk kembali kepada-Nya. “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu,” firman Tuhan (Mal. 3:7; bdk. Za. 1:3). Segala kesusahan yang saat itu menimpa Israel bersumber pada ketidaksetiaan bangsa itu sendiri, sehingga Tuhan tidak berkenan menyertai mereka.

Namun, Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk alias keras kepala. Diajak untuk bertobat, mereka malah berlagak bingung karena tidak merasa berbuat salah. Hal tersebut juga sudah terjadi berulang-ulang, sehingga untuk mengantisipasi sikap serupa, kali ini Tuhan langsung saja membeberkan kesalahan mereka: Israel sudah menipu diri-Nya. Kata “menipu” diulang sampai tiga kali di ayat 8 dan masih muncul satu kali lagi di ayat 9. Menipu Tuhan tentu saja merupakan kejahatan serius. Penyebutan sampai empat kali menunjukkan bahwa kejahatan ini tersebar luas dan sudah sangat keterlaluan. Penipuan macam apa yang dilakukan orang Israel terhadap Tuhan? Penipuan yang dimaksud ternyata menyangkut persepuluhan.

Tindakan apa persisnya yang dilakukan oleh orang Israel tidak disebutkan dengan jelas. Mungkin banyak di antara mereka tidak mempersembahkan persepuluhan sama sekali, atau bisa jadi perhitungannya diakali sehingga persembahan mereka hanya sedikit. Yang jelas, Tuhan menjadi gusar karena persembahan persepuluhan tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Sebenarnya agak aneh bahwa seorang nabi memberi perhatian besar pada masalah persepuluhan dengan cara demikian, sebab para nabi biasanya menegaskan bahwa persembahan umat bukanlah hal yang utama (bdk. Am. 5:21-23; Yes. 43:23). Pendekatan yang berbeda ini agaknya berlatar belakang situasi pada masa itu, di mana orang Israel sedang mengalami kesusahan hidup yang sangat besar.

Persepuluhan dalam kitab Maleakhi mengacu pada Bil. 18:21-32, dan sejalan dengan praktik yang dilaksanakan oleh Nehemia (Neh. 10:37-38; 12:44; 13:5, 12).[3] Fungsi sosial sangat ditekankan di sini, sebab pada akhirnya yang terutama menikmati persepuluhan itu adalah kaum Lewi, para imam, dan orang-orang miskin, yakni orang asing, anak yatim, dan para janda. Mengingat situasi bangsa yang saat itu sedang mengalami saat-saat yang berat, hal ini amat sangat penting. Ketidaktaatan untuk mempersembahkan persepuluhan akan membuat hidup orang-orang berkekurangan semakin menderita.

Persepuluhan adalah hak Allah, sehingga tidak boleh dilihat sebagai hadiah yang diberikan manusia kepada-Nya. Ketaatan dalam mempersembahkan persepuluhan akan membuahkan berkat berlimpah, sebagaimana dipaparkan di Mal. 3:10-12. Tingkap-tingkap langit akan dibuka, sehingga turunlah “hujan berkat” bagi mereka. Panenan akan berhasil, tidak ada akan hama tanaman yang menyerang mereka. Pada akhirnya, kemakmuran dan kesejahteraan yang mereka capai akan terkenal di mana-mana, sehingga bangsa-bangsa lain akan menyebut Israel sebagai bangsa yang “berbahagia.” Demikianlah semua berkat itu akan mengakhiri kesusahan besar yang sedang mereka alami. Kuncinya ternyata hanya satu, yakni dengan setia melaksanakan kehendak Tuhan, lebih spesifik lagi dengan mempersembahkan persepuluhan sebagaimana mestinya.

(Bersambung)

[1] Penyebutan Maleakhi sebagai nama diri di Mal. 1:1 dilakukan oleh editor kitab ini pada masa kemudian. Lih. Dianne Bergant dan Robert J. Karris (ed.), Tafsir Alkitab Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 731.

[2] Atau ada yang berpendapat sebelumnya. Lih. Dianne Bergant dan Robert J. Karris (ed.), Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, 731.

[3] David L. Petersen, Zechariah 9 – 14 and Malachi (Louisville: Westminster John Knox Press, 1995), 216.