Iman Besar Seorang Perwira

Senin, 18 September 2017 – Hari Biasa Pekan XXIV

328

Lukas 7:1-10

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.

***

Kisah mukjizat penyembuhan hamba seorang perwira di Kapernaum mengingatkan kita pada beberapa kisah mukjizat lain yang telah dilakukan oleh Yesus di sana (Luk. 4:22, 31-37, 38-39, 40-41). Melalui kisah mukjizat ini diperlihatkan belas kasih Allah yang tidak hanya ditujukan kepada orang Yahudi, tetapi juga orang bukan Yahudi (bdk. Luk. 4:27). Kisah mukjizat ini juga menunjukkan bahwa kemurahan dan belas kasih Allah melampaui batas agama dan etnis tertentu saja.

Selain belas kasih dan kemurahan hati Allah bagi orang bukan Yahudi, kisah ini juga mempertontonkan kualitas iman seorang bukan Yahudi, yakni seorang perwira Roma. Kualitas imannya sangat besar seperti terungkap dalam kata-katanya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Kata-kata ini memperlihatkan keyakinan iman yang sangat besar. Dia meyakini bahwa Yesus dapat menyembuhkan hambanya biarpun hanya dengan bersabda saja. Si hamba pasti bisa disembuhkan dari jauh. Dia mengakui otoritas Yesus untuk menyembuhkan hambanya sambil mengakui ketidakpantasan dirinya untuk datang dan menerima Yesus di rumahnya.

Kualitas iman yang luar biasa tersebut lalu dikontraskan dengan iman orang Israel, termasuk orang banyak yang berkumpul di sekitar Yesus. Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Ia kagum dengan iman sang perwira yang sangat besar. Reaksi kekaguman ini mirip dengan reaksi orang banyak ketika melihat mukjizat yang dilakukan Yesus (bdk. Luk. 4:22). Pujian bagi iman sang perwira Roma dapat dipandang sebagai pujian Yesus yang pertama dalam Injil Lukas yang ditujukan kepada orang asing. Pantaslah iman yang luar biasa itu kita teladani.