Yesus Memanggil Seorang Pemungut Cukai

Kamis, 21 September 2017 – Pesta Santo Matius

548

Matius 9:9-13

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.” Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

***

Markus dan Lukas memberi nama lain kepada Matius, yakni Lewi (Mrk. 2:14; Luk. 5:27). Hanya Matius sendiri yang menyebut dirinya “Matius.” Markus dan Lukas mempunyai daftar dua belas rasul dan nama Matius ada di dalamnya. Akan tetapi, hanya Matius yang menyebut nama “Matius” sebagai seorang pemungut cukai, petugas pajak. Matius mungkin bertugas memungut pajak barang-barang impor atau ekspor ke wilayah Herodes Antipas untuk diserahkan kepada kaisar. Petugas pajak bisa menipu wajib pajak dengan menaikkan pajak untuk memperkaya dirinya sendiri, sehingga sering dicurigai sebagai orang yang tidak jujur. Orang Yahudi benci kepada para petugas pajak karena mereka bekerja bagi pihak asing (orang Roma), sehingga dianggap tidak setia.

Matius mungkin telah mendengar tentang Yesus sebelumnya. Ia bahkan mungkin telah mendengarkan Yesus ketika berbicara di hadapan orang banyak di Kapernaum. Ia mengetahui bahwa Yesus bersahabat dengan semua orang. Karena itu, ia segera meninggalkan pekerjaan dan cara hidupnya yang lama untuk mengikuti panggilan menjadi murid Yesus. Panggilan Yesus dirayakannya dengan mengundang para sahabat untuk bertemu dengan Yesus dan makan bersama-Nya. Hal ini ia lakukan karena pengampunan dipandang sebagai karunia yang perlu dirayakan.

Orang Farisi melihat Yesus berkumpul dan makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa. Mereka mengkritik Yesus karena makan bersama dipandang sebagai sebuah peristiwa penting yang menunjukkan tanda persekutuan. Tindakan Yesus yang secara terbuka makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa mereka anggap sebagai skandal. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, tetapi orang sakit.” Dia datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa agar bertobat. Melalui kata-kata ini diakui pula bahwa Gereja bukan terutama sebuah komunitas orang benar, melainkan komunitas orang berdosa yang dimaafkan dan membutuhkan pengampunan secara terus-menerus.

Yesus lalu menantang orang Farisi untuk mempelajari apa yang dikatakan Allah. “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (bdk. Hos. 6:6). Belas kasih ditempatkan oleh Allah di atas semua pertimbangan lainnya. Allah menghendaki agar umat-Nya mengasihi dan berbuat baik kepada sesama daripada mempersembahkan kurban sebagai silih atas dosa.