Pelita Hati

Senin, 25 September 2017 – Hari Biasa Pekan XXV

142

Lukas 8:16-18

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.”

***

Saya dilahirkan di sebuah desa kecil di Sumatra Selatan. Waktu kecil di sana saya masih mengalami pemadaman listrik atau penjatahan listrik menyala. Yang paling membuat tidak nyaman adalah ketika listrik padam di malam hari. Kalau sudah begitu, mbah putri (nenek) saya adalah orang yang selalu bisa membuat kami, cucu-cucunya, merasa tenang. Dia pasti lalu menyalakan sentir (lampu kecil tradisional) agar keadaan jadi agak terang. Di sekitar lampu inilah para cucu kemudian duduk berkeliling, sampai akhirnya tertidur satu per satu dengan nyenyak.

Dalam hidup ini, pada dasarnya kita membutuhkan penerang. Sekecil apa pun, terang selalu dibutuhkan untuk memberi rasa tenang dan damai. Menjadi terang inilah yang dikehendaki Yesus agar dilakukan oleh para murid-Nya. Laksana pelita, para murid hendaknya menjadi terang dunia. Pelita memang kecil, tetapi sanggup menerangi kegelapan. Dengan menempatkan pelita pada tempatnya, orang-orang yang terjebak dalam kegelapan akan kembali melihat jalan.

Perumpamaan yang disampaikan Yesus menegaskan bahwa setiap orang memiliki pelita dalam hati masing-masing. Itulah yang disebut pelita hati. Jika kita berpegang pada pelita hati, kita pun dapat memberikan kesejukan kepada orang lain di saat mereka lelah dalam menjalani kehidupan ini.

Cahaya pelita hati terwujud secara konkret dalam hal-hal keseharian yang sederhana. Misalnya saja dalam tutur kata yang lemah lembut nan menyejukkan, dalam ungkapan-ungkapan apresiatif terhadap hasil karya orang lain di sekitar kita, juga dalam senyuman yang tulus. Yang paling utama, kita membuat orang di sekitar kita menjadi dekat dan nyaman dengan kehadiran kita, atau bahkan merindukan kehadiran kita. Demikianlah, cahaya pelita hati kita sungguh-sungguh memberi nilai dan makna bagi orang-orang di sekitar kita.

Nah bagaimana, sudahkah kehadiran kita memancarkan cahaya pelita bagi sesama?