Harapan di Tengah Penderitaan (3)

121

Berharap di dalam derita, bukan sesudahnya

Kesan bahwa penderitaan dan harapan saling bertentangan hancur dalam pengalaman salib. Yesus memberi harapan yang terdalam, bukan pertama-tama dengan kehebatan ajaran-Nya atau kuasa mukjizat-Nya, tetapi dengan menjadi miskin untuk menjadikan kita kaya. Ia memberi kita harapan dengan rela mati agar kita hidup.

Begitu juga jalan para pengikut-Nya. Kita tidak membawa harapan yang mantap dengan membawa truk-truk penuh sembako. Sekali-sekali hal itu memang perlu untuk mengatasi keadaan darurat, dan harus diakui bahwa bantuan kemanusiaan seperti itu bisa membuat orang sejenak melupakan rasa putus asa. Namun, harapan yang kuat dan tahan lama baru akan timbul di saat orang mengalami kasih yang memberi kepercayaan, kasih dari seseorang yang mengosongkan dirinya untuk memajukan yang lain. Pengalaman kasih seperti itu mampu memulihkan kepercayaan dan pengharapan. Kasih sejati tidak diukur dari kuantitas bantuan yang bisa saya bawa kepada orang yang menderita, tetapi dari cara seseorang mengosongkan dirinya dalam membantu temannya untuk berdiri atas kakinya sendiri dengan penuh keyakinan.

Dalam pengalaman kasih, orang yang menderita akan menemukan bahwa kesusahannya tidak perlu diangkat dulu sebelum ia dapat berharap lagi. Sebaliknya, harapan yang muncul dan dipelihara di tengah kesusahan adalah penolong utama yang dapat membawanya keluar dari kesukaran, betapa pun panjang perjalanan yang harus ditempuh. Harapan seperti itu tidak akan mampu ditanamkan oleh orang yang menawarkan bantuan dan jalan keluar yang sifatnya cepat dan instan.

Harapan ternyata ada macam-macam tingkatannya. Harapan yang dangkal tidak mampu membuat orang menerima penderitaan, sebab kesusahan akan membuatnya kecewa selama tidak ada yang membantu mengangkatnya dari situ. Harapan yang lebih kuat membuat orang dapat bertahan dalam penderitaan yang berkepanjangan, sebab ia percaya bahwa perjuangannya untuk keluar dari situ mendapat restu Tuhan dalam berbagai macam bentuk. Harapan yang tertinggi membuat orang berani bertahan dalam penderitaan dan solider dengan orang lain yang juga mengalami kesusahan. Harapan ini membantunya bangkit dan menggerakkannya untuk maju. Ia percaya bahwa turut menanggung penderitaan dengan kasih setia akan membuahkan janji yang kelak akan terpenuhi dengan sendirinya. Bukan kebetulan bahwa harapan terus didampingi oleh iman dan kasih (lih. 1Kor. 13:13).

Penutup

Alkisah, ada tiga orang yang mati sebelah tangannya, namanya Eko, Dwi, dan Tri. Si Eko sering membual, “Tangan kiri saya nanti akan disembuhkan oleh dokter. Sesudah itu, saya akan melakukan ini dan itu.” Ia lalu membuat daftar khayalan yang sangat panjang. Si Dwi hanya berkata, “Saya berharap, dengan sedikit pijatan setiap hari, tangan kiri saya bisa berfungsi kembali.” Mendengar itu, si Tri menyambung, “Bolehkah saya membantu memijat tangan kirimu dengan tangan kanan saya yang masih kuat ini?”

Demikianlah, tangan kiri Dwi dipijat oleh temannya, dan sedikit demi sedikit keadaannya semakin baik. Harapan Dwi dari hari ke hari bertambah kuat. Melihat hal itu, Tri sendiri menjadi semakin bersemangat, lupa bahwa tangan kirinya juga sakit. Meskipun lemah, ternyata dia bisa membantu orang lain. Dwi dan Tri mengalami kegembiraan, sementara si Eko hanya bisa mengomel setiap hari, sebab dokter tidak kunjung datang. Tangan kirinya tetap begitu-begitu saja, sehingga harapan dan khayalannya akhirnya padam.***