Ditinggalkan Tuhan

Sabtu, 30 September 2017 – Peringatan Wajib Santo Hieronimus

181

Lukas 9:43b-45

Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.

***

Apakah Anda pernah merasa ditinggalkan Tuhan? Mungkin banyak dari antara kita pernah mempunyai pengalaman yang demikian. Biasanya ini terkait dengan pengalaman yang sangat berat dalam hidup kita. Kita sampai merasa bahwa inilah beban terberat yang pernah kita tanggung. Begitu beratnya sampai-sampai kita seakan berada di titik kritis, sebab kita sungguh tidak mampu menanggungnya lagi.

Dalam keadaan seperti itu, apa yang kemudian terjadi? Biasanya kita lalu merasa putus asa. Namun lihatlah, kita masih hidup sampai sekarang. Dengan segala jatuh bangun yang ada, toh kita masih bernapas dan berjalan. Ini berarti kita mempunyai mental pemberani dan pejuang. Selain itu, perlu disadari pula bahwa hidup kita masih terpelihara sampai sekarang karena ada yang membentengi, tidak lain Allah sendiri. Dialah benteng hidup kita. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Dia senantiasa membela dan melindungi kita, sebab kita ini anak-anak yang dipilih dan dipanggil oleh-Nya.

Itulah juga yang membuat Yesus tidak gentar terhadap sengsara dan maut yang harus Ia terima. Ia malah menyambut itu semua dengan gagah berani, sebab Ia percaya mutlak kepada kebaikan dan penyelenggaraan Bapa. Bagaimana dengan kita? Apa yang akan kita lakukan ketika kita berada dalam keadaan yang berat, ketika kita tertimpa masalah yang seolah-olah tidak terpecahkan? Apakah kita akan lari? Ataukah kita tetap percaya bahwa Allah adalah benteng hidup kita?