Menyenangkan Hati

Minggu, 1 Oktober 2017 – Hari Biasa Pekan XXVI

87

Matius 21:28-32

“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”

***

Ada seorang anak bernama Prapto. Ayahnya seorang tukang ojek dan ibunya seorang buruh cuci setrika pakaian. Dalam situasi ekonomi yang serba kurang, bapak ibu itu tetap mengupayakan supaya anaknya bisa sekolah. Prapto juga menyadari situasi keluarganya. Ia sungguh bersyukur bahwa dalam keadaan yang sulit pun ia masih bisa menikmati bangku sekolah. Karena itu, Prapto belajar sungguh-sungguh. Selain itu, tanpa malu Prapto juga sering membantu ibunya mengantar pakaian yang sudah selesai dicuci dan disetrika kepada para pelanggan. Prapto ingin menyenangkan hati orang tuanya.

Setiap orang tentu punya kerinduan untuk menyenangkan hati orang lain. Membuat hati orang lain senang bisa dilandasi berbagai motivasi. Prapto ingin menyenangkan hati orang tuanya. Karena itu, ia rajin belajar supaya mendapat nilai yang bagus dan nantinya bisa mewujudkan cita-citanya. Ia juga rajin membantu orang tuanya. Prapto sadar bahwa semua itu bisa menyenangkan hati bapak ibunya, tetapi juga penting bagi masa depannya. Ia ingin membalas cinta kasih orang tuanya.

Lain lagi dengan para pegawai di masa Orde Baru yang akrab dengan istilah ABS (Asal Bapak Senang). Ketika ada pejabat yang datang, mereka akan tekun bekerja. Namun, ketika tidak ada pimpinan, tidak ada yang mengawasi, mereka bisa saja semaunya sendiri. Kalau atasan senang, mereka tidak akan kena marah, tidak akan kena hukuman, jabatan tetap aman.

Dalam Injil hari ini Yesus mengangkat sebuah perumpamaan tentang sikap dua orang anak terhadap perintah ayahnya. “Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.”

Anaknya yang sulung menyanggupi, tetapi ternyata tidak pergi. Ia menjawab “ya” hanya untuk menyenangkan hati ayahnya dan hanya sekadar di mulut. Tentu saja ayahnya senang mendengar jawaban anaknya itu. Mungkin ia malah sampai memuji dalam hati: “Sungguh engkau anak yang berbakti.” Akan tetapi, kalau mengetahui bahwa anaknya yang sudah menjawab ya itu ternyata tidak melakukan kehendaknya, pasti sang ayah akan merasa kecewa.

Sementara itu, anak yang kedua menolak perintah ayahnya. Mendengar penolakan itu, tentu sang ayah kecewa. Mungkin saja ia marah dan menegur anaknya, “Dasar anak yang tidak patuh kepada orang tua!” Namun, apa yang terjadi kemudian? Anak ini ternyata menyesal, lalu akhirnya pergi juga. Kalau ayahnya mengetahui hal itu, apa kira-kira reaksinya? Walau awalnya sedih dan kecewa dengan jawaban anaknya, pasti kemudian ia merasa gembira dan bahagia. Hatinya senang karena ternyata anaknya melakukan apa yang menjadi kehendaknya.

Untuk menyenangkan hati Tuhan tidak cukup dengan kata-kata “ya” yang hanya di mulut. Untuk menyenangkan hati Tuhan diperlukan sikap menyesal. Kita mesti bertobat karena sering kali tidak melaksanakan kehendak Tuhan. Sesudah itu, mulailah melaksanakan segala kehendak-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.