Bersikap Ramah terhadap Tamu dan Orang Asing (1)

235

Hidup di kota metropolitan dengan segala persoalannya membuat orang tidak lagi ramah terhadap tamu dan orang asing. Anak-anak diajarkan oleh orang tua mereka untuk waspada dan bahkan curiga terhadap tamu asing yang datang ke rumah. Tamu asing bahkan sering kali tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah. Hal serupa terjadi dengan tamu yang mencari suaka di negara lain, seperti yang terjadi dengan para imigran.

Sikap waspada dan curiga tentu saja wajar mengingat banyaknya kasus tidak terpuji yang dilakukan oleh sebagian tamu asing. Namun, curiga secara berlebihan yang berujung pada penolakan tentunya bertentangan dengan nilai dan kebajikan hidup yang mengatakan bahwa semua orang memiliki kewajiban untuk membantu satu sama lain, terutama orang asing.

Keramahan dalam budaya kuno

Istilah keramahan berasal dari terjemahan kata Yunani philoxenia. Secara harfiah, istilah philoxenia berarti “cinta kepada orang asing.” Cinta ini dikaitkan dengan sikap dan tindakan menerima, memberi tumpangan, makanan, minuman, dan perlindungan bagi tamu dan orang asing. Arti kata ini persis kebalikan dari kata xenophobia yang berarti “takut kepada orang asing.”

Keramahan sudah menjadi nilai dan kebajikan hidup dalam hampir semua budaya kuno. Dalam budaya Yunani-Romawi kuno, sikap ramah kepada tamu dan orang asing dilandasi oleh ketakutan kepada dewa-dewi. Tamu asing dipandang sebagai utusan dewa-dewi, sehingga dihormati meskipun tidak dikenal. Jika mereka tidak ramah terhadap tamu dan orang asing, ada risiko dewa-dewi akan murka. Karena itu, tamu asing harus diterima dan diperlakukan dengan ramah dengan memberi mereka tumpangan, makanan, dan perlindungan.

Dalam budaya dan tradisi religius Yahudi kuno, sikap ramah kepada tamu dan orang asing dilandaskan pada tiga hal. Pertama, pemahaman dan keyakinan religius orang Yahudi tentang Allah sebagai sosok yang “menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian” (Ul. 10:18). Kedua, pengalaman hidup orang Israel sebagai orang asing di tanah Mesir. “Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir” (Kel. 22:21; bdk Im. 19:33-34). Ketiga, gambaran eskatologis tentang Allah sebagai tuan rumah yang menjamu orang Israel dan bangsa-bangsa lain dalam perjamuan besar di akhir zaman (Yes. 25:6-8).

(Bersambung)