Bersikap Ramah terhadap Tamu dan Orang Asing (2)

286

Keramahan mendatangkan berkat

Gagasan tentang perlunya sikap ramah terhadap tamu dan orang asing mendapat tempat penting dalam Alkitab. Keramahan dipandang sebagai nilai dan kebajikan hidup yang diperintahkan dan dipuji oleh Allah, sehingga merupakan sebuah kewajiban suci. Tuan rumah memiliki kewajiban untuk bersikap dan bertindak ramah kepada tamu dengan cara memberi tumpangan, berbagi makanan, dan memberikan perlindungan. Sikap ramah terhadap para tamu asing dipandang sebagai momen perjumpaan dengan yang ilahi dan pada gilirannya akan mendatangkan berkat melalui orang-orang itu.

Kisah Abraham dan Sara menjamu tiga tamu asing menjadi sebuah paradigma dalam menerima dan memperlakukan orang lain dengan ramah (Kej. 18:1-16). Meskipun ketiga tamunya singgah sebentar saja, Abraham dan Sara tetap melayani mereka dengan menyiapkan perjamuan yang luar biasa. Keramahan pada gilirannya mendatangkan berkat dari Allah. Para tamu menyampaikan nubuat kelahiran seorang anak laki-laki kepada Abraham. Dinubuatkan bahwa Sara akan mengandung dan melahirkan laki-laki baginya.

Contoh keramahan bagi tamu dan orang asing ditemukan pula dalam kisah janda di Sarfat (1Raj. 17:7-16). Janda ini bersikap ramah kepada Elia yang meminta hal-hal sederhana, namun membebani (karena pada saat itu sedang terjadi bencana kelaparan yang hebat), yakni sedikit air dan sepotong roti. Si janda memberi air dan berbagi makanan yang tersisa kepada Elia. Segenggam tepung tersisa diolahnya menjadi roti bundar kecil dan diberikannya pertama-tama kepada tamu asing itu. Sikap yang ramah ini pada gilirannya mendatangkan berkat yang mengagumkan dari Allah. Allah berfirman melalui Elia bahwa “tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang” (1Raj. 17:14). Janda ini juga mendapatkan berkat Allah yang mengagumkan ketika anaknya yang sudah mati dihidupkan kembali (1Raj. 17:17-24).

(Bersambung)