Bersikap Ramah terhadap Tamu dan Orang Asing (5)

350

Ramahlah terhadap tamu dan orang asing

Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memuat nasihat untuk ramah terhadap orang asing. Dalam kitab Imamat, misalnya, diperintahkan agar orang asing diperlakukan sama seperti orang Israel dan dikasihi sama seperti diri sendiri. “Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir” (Im. 19:34). Orang Israel sering diingatkan pula agar tidak memperkosa hak orang asing karena mereka juga pernah menjadi budak dan orang asing di tanah Mesir (Ul. 24:18; Im. 19:34). Karena itu, mereka harus ramah terhadap tamu dan orang asing.

Dalam perumpamaan tentang penghakiman terakhir, penginjil Matius menetapkan keramahan terhadap orang asing sebagai salah satu kriteria seseorang dibenarkan ketika diadili dan dihakimi di akhir zaman. “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan” (Mat. 25:35). Paulus juga mengingatkan jemaatnya di Roma untuk menunjukkan keramahan terhadap orang asing dengan memberikan tumpangan (Rm. 12:13). Hal senada diingatkan oleh penulis surat Ibrani ketika memberikan nasihat demikian, “Jangan kamu lalai memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat” (13:2). Nasihat untuk memperlihatkan keramahan ini ditambahkan oleh penulis 1 Petrus dengan sebuah rekomendasi untuk melakukannya dengan ikhlas dan tidak bersungut-sungut. “Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut” (1Ptr. 4:9). Dalam surat-surat pastoral, keramahan terdaftar di antara kualifikasi-kualifikasi yang diperlukan bagi para pelayan dan pemimpin Gereja (1Tim. 3:2).

Tekanan pada pentingnya keramahan bagi orang asing juga berlaku dalam hidup menggereja pada masa kini. Gelombang pengungsian, entah karena perang atau bencana alam dan para pekerja migran, tidak jauh dari lingkungan hidup Gereja kita. Para pengungsi dan para imigran dapat dipandang sebagai orang asing yang mengharapkan keramahan dari anggota Gereja. Keramahan yang ditekankan dalam Kitab Suci juga dapat membantu kita dalam berelasi dengan orang asing, orang yang berbeda agama, suku, ras, dan orientasi seksual. Sebab, dalam kata keramahan terkandung sikap dan tindakan menerima dan memperlakukan tamu dan orang asing dengan ramah, bersahabat, dan murah hati.

Namun, patut dicatat bahwa keramahan hanya mungkin terbangun jika baik tuan rumah maupun tamu asing menghayati dua prinsip dasar berikut. Pertama, sikap hormat tuan rumah kepada tamu asing atau orang yang tidak dikenal. Tuan rumah harus ramah kepada tamu dengan memberi mereka makan dan minum serta perlindungan. Kedua, sikap hormat tamu atau orang asing kepada tuan rumah. Tamu asing atau orang yang tidak dikenal harus bersikap sopan, tidak mengganggu dan mengancam, dan tidak menjadi beban bagi tuan rumah.***

Sumber Bacaan

Barten, S.C. “Hospitality” dalam Ralph P. Martin & Peter H. Davids (eds), Dictionary of the later New Testament and its developments (Leicester: InterVarsity Press, 1997), 501-507

Byrne, Brendan, The Hospitality of God: A Reading of Luke’s Gospel (Collegeville: Liturgical Press, 2000.

Godfrey, Kevin, “Hospitality” dalam Michael Downey (ed.), The New Dictionary of Catholic Spirituality (Collegeville:  Liturgical Press, 1993), 515-516.

John P. Meier, A Marginal Jew: Companions and competitors (New Heaven & London: Yale University Press, 2001)

Reid, Barbara E. “What’s Biblical about…Hospitality” The Bible Today, Vol. 52, May/June 2014.