Melempar Api ke Bumi

Kamis, 26 Oktober 2017 – Hari Biasa Pekan XXIX

363

Lukas 12:49-53

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”

***

Bacaan Injil hari ini bila dibaca secara harfiah bisa mendatangkan salah tafsir, sebab dikisahkan bahwa Yesus berkata kalau Ia datang bukan untuk membawa damai melainkan pertentangan. Yesus juga berkata bahwa Ia datang melemparkan api ke bumi dan mendambakan agar api itu selalu menyala.

Api dalam Kitab Suci adalah simbol semangat, pembersihan, dan pemurnian. Dalam konteks ini, api yang dimaksud Yesus adalah proses pemurnian atau transformasi seseorang yang mengaku sebagai pengikut Yesus. Sebagai murid Yesus, orang itu harus menjadi sosok yang luar biasa.

Perbandingannya adalah emas yang dibakar dalam dapur api. Emas harus melalui proses itu untuk dimurnikan dan dibersihkan dari material-material lainnya. Pada akhirnya yang didapat adalah emas yang sungguh murni dan indah.

Demikianlah yang terjadi pada murid-murid Yesus. Mereka akan mengalami proses pembersihan diri yang diungkapkan dengan satu kata yang cukup menggelitik para pembaca Kitab Suci, yakni “pertentangan.” Akan ada pertentangan dalam hidup murid-murid Yesus, tetapi bukan pertentangan dalam arti mereka membawa permusuhan dan kebencian. Pertentangan yang dimaksud adalah pertentangan terang, kebenaran, kebaikan dengan gelap, kepalsuan, kefasikan yang menguasai dunia kita.

Yesus membongkar sebuah kenyataan bahwa pertentangan yang dialami oleh para pengikut-Nya bukan hanya datang dari luar, tetapi datang juga dari orang-orang terdekat mereka, seperti dari anggota keluarga mereka sendiri. Ini berarti perjuangan seorang pengikut Kristus yang sejati akan menjadi sangat serius dan pelik.