Delapan Sabda Bahagia

Rabu, 1 November 2017 – Hari Raya Semua Orang Kudus

1326

Matius 5:1-12a

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga.”

***

Sabda Bahagia mengawali Khotbah di Bukit (Mat. 5-7). Dalam Kotbah di Bukit, Yesus ditampilkan sebagai Musa baru yang memberikan Taurat baru. Yesus tampil penuh wibawa. Bagaikan seorang rabi, Ia duduk menyampaikan ajaran resmi dan mengikat (mirip ajaran ex cathedra uskup atau paus dewasa ini). Ia memulai pemerintahan Allah dan mengajar umat Allah yang baru (para murid dan orang banyak, bdk. 4:1-2, 25).

Kata “berbahagialah” dapat juga diterjemahkan dengan “terhormatlah.” Masyarakat Palestina abad pertama tertata berdasarkan mentalitas “hormat-malu.” Dalam masyarakat seperti itu (seperti sebagian besar masyarakat kita dewasa ini), hidup yang “terhormat” adalah hidup yang kaya, bahagia, berkelimpahan, berpangkat, dan banyak teman. Kata “berbahagialah” di awal semua sabda ini janganlah dilihat sebagai perintah atau harapan, tetapi pernyataan. Yesus menegaskan bahwa mereka yang mempunyai delapan kualitas diri seperti itu adalah orang-orang yang secara objektif (bukan perasaan subjektif) memang “berbahagia” atau “terhormat” hidupnya!

Pertama-tama, Yesus menyatakan “bahagia/terhormat” mereka yang miskin di hadapan Allah. Artinya, semua orang yang mengandalkan dan bergantung pada Allah dinyatakan berbahagia karena mereka boleh menikmati buah pemerintahan Allah yang tengah dihadirkan Yesus.

Kelompok kedua yang dinyatakan “bahagia” adalah mereka yang berduka. Artinya, semua orang yang berduka karena disingkirkan dan kehilangan haknya di dunia ini akibat iman mereka akan dihibur oleh Allah sendiri.

Kelompok “berbahagia” yang ketiga adalah mereka yang lemah lembut. Dalam masyarakat yang penuh dengan pentas dan kontes kehormatan, selalu saja ada konflik dalam rangka kehormatan dan harga diri. Yesus justru menyebut bahagia orang yang lemah lembut, bukan orang yang mencari konflik dan pertentangan. Mereka itulah yang akan mendapat kehormatan dan kelimpahan di bumi yang baru.

Sabda bahagia yang keempat ditujukan kepada orang yang lapar dan haus akan kehendak Allah. Artinya, mereka yang sungguh merindukan dan mencari kehendak Allah dalam hidupnya akan berbahagia, sebab Allah pasti akan memuaskan kerinduan hati mereka.

Sabda bahagia kelima ditujukan kepada mereka yang berbelas kasih. Artinya, mereka yang mengasihi dan mengampuni sesamanya akan juga dikasihi dan diampuni Allah.

Sabda bahagia yang keenam ditujukan kepada semua yang suci hatinya, sebab mereka akan “melihat Allah.” Melihat Allah di sini artinya mengalami kemuliaan Allah dan mengalami kehadiran-Nya.

Sabda bahagia yang ketujuh ditujukan kepada mereka yang membawa damai, yakni semua orang yang cinta damai dan secara aktif membawa damai kepada semua orang, termasuk musuh (bdk. Mat. 5:44). Mereka akan diakui sebagai anak-anak Allah di akhir zaman karena sudah berupaya menghadirkan kedamaian sejati yang hanya berasal dari Allah.

Dan yang terakhir, Yesus menyatakan bahagia mereka yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah. Meski menderita, mereka pantas berbahagia karena akan menjadi warga Kerajaan Surga.

Tidak kebetulan teks ini dipakai pada Hari Raya Semua Orang Kudus. Hidup para kudus menjadi bukti dan teladan nyata bahwa tuntutan Sabda Bahagia itu dapat kita praktikkan, bukan hanya cita-cita luhur yang indah dikhotbahkan saja.