Boleh Menyembuhkan atau Tidak?

Jumat, 3 November 2017 – Hari Biasa Pekan XXX

227

Lukas 14:1-6

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya: “Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka: “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya.

***

Setelah menyembuhkan seorang perempuan yang bungkuk, sekarang Yesus menyembuhkan seorang pria yang sakit busung air. Lukas memang gemar menampilkan tokoh pria-wanita secara berpasangan. Ingat saja: kabar malaikat ditujukan kepada Zakharia (Luk. 1:5-25) dan Maria (Luk. 1:26-38), nubuat Simeon (Luk. 2:25-35) dan Hana (Luk. 2:36-38), pria kehilangan domba (Luk. 15:3-7) dan perempuan kehilangan uang (Luk. 15:8-10), dua pria di tempat tidur (Luk. 17:34) dan dua perempuan di tempat penggilingan gandum (Luk. 17:35). Lukas juga “mengimbangi” daftar para murid  Yesus yang pria (Luk. 6:12-16) dengan daftar para perempuan yang mengikuti Yesus (Luk. 8:1-3).

Latar waktu cerita ini mengantisipasi konfliknya, yaitu hari Sabat. Melanggar aturan hari Sabat hukumannya mati. Latar sosialnya juga menarik: makan bersama. Lukas gemar dengan latar perjamuan dan pesta sebagai simbol persaudaraan, solidaritas, dan sukacita. Dalam cerita ini, kehadiran seorang yang berpenyakit menjadi test case. Para lawan Yesus menjadikan kasus itu ujian terhadap Yesus: apakah Dia akan melanggar (lagi) aturan Taurat atau tidak? Di pihak lain, Yesus justru akan memakai kasus ini untuk mencobai mereka: apakah mereka sungguh memahami intisari dari setiap perjamuan/makan bersama atau tidak?

Adegan penyembuhan diawali dan diakhiri oleh dua pertanyaan retorik dari Yesus, yang kedua-duanya tidak dijawab oleh para lawan-Nya. Pertanyaan pertama: apakah diizinkan menyembuhkan orang pada hari Sabat? Tindakan menyembuhkan adalah pekerjaan seorang tabib. Karena itu, hal tersebut dilarang pada hari Sabat, kecuali dalam keadaan bahaya maut (Mishna, Yoma 8:6). Di sini jelas tidak ada bahaya maut. Yesus dengan begitu dapat diajukan ke pengadilan dan dihukum mati (bdk. Kel. 31:14).

Pertanyaan retorik Yesus ini tidak mereka jawab, sehingga Ia sendiri menjawabnya dengan langsung menyembuhkan orang itu dan menyuruhnya pergi. Proses penyembuhannya sendiri diceritakan dengan amat minim. Mukjizat penyembuhan per se tampaknya tidak dipentingkan. Sebagai pembenaran atas tindakan penyembuhan itu, Yesus mengajukan satu pertanyaan retorik lagi. Intinya, kalau binatang saja diselamatkan pada hari Sabat, apalagi seorang manusia. Jadi, tindakan Yesus sesuai dengan maksud terdalam hari Sabat, yaitu demi kebaikan/keutuhan/martabat manusia (bdk. Ul. 5:14 dst.).

Dengan demikian, alur cerita ini bersifat revelatif karena membuka/mewahyukan dan mengajarkan beberapa hal tentang Allah dan Kerajaan Allah. Pertama, Yesus menghadirkan Allah yang menempatkan manusia sebagai tujuan dan pusat hukum dan peraturan. Kebaikan, keutuhan, dan martabat manusia harus dibela di hadapan teror huruf hukum dan tafsiran harfiah.

Kedua, Yesus amat yakin dengan misi-Nya untuk menyelamatkan manusia. Fokus Yesus tidak berubah, kendati Ia berada “di sarang musuh” dan sedang dijamu oleh para “lawan politik.” Ia yakin dengan keputusan dan pilihan-Nya, meskipun berisiko tinggi dihukum mati, ataupun kehilangan teman-teman “petinggi” yang bisa menjadi teman lobi untuk mengamankan posisi.

Ketiga, Yesus mengajarkan saya dan Anda tentang inti setiap perjamuan/makan bersama. Makan bersama haruslah menjadi  kesempatan untuk merangkul dan bersaudara dengan semua orang, bukan tempat eksklusif untuk tamu tertentu dan teman dekat saja.