Berjaga-jaga dan Siap Sedia

Minggu, 12 November 2017 – Hari Biasa Pekan XXXII

374

Matius 25:1-13

“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

***

Menjadi murid Yesus adalah panggilan kita sebagai orang-orang kristiani. Selama satu minggu ke depan ini, bacaan-bacaan Kitab Suci akan kita renungkan dalam kerangka refleksi sebagai murid Yesus.

Kalimat terakhir dalam bacaan Injil hari Minggu ini menyebutkan kata “berjaga-jagalah.” Kata “berjaga-jaga” kiranya juga dapat diartikan “siap sedia kapan pun dan dalam situasi apa pun.” Kata ini mengingatkan saya pada seorang dosen Kitab Suci yang meminta kami, para mahasiswa, untuk selalu membaca dan mempelajari mata kuliah yang diajarkan. Alasannya, ujian (kuis) bisa diadakan kapan saja, mendadak tanpa pemberitahuan. Situasi ini membuat kami mau tidak mau harus selalu siap ujian setiap saat. Sikap selalu “berjaga-jaga” inilah yang pada akhirnya membuahkan kebiasaan belajar terus-menerus dan konsisten, tanpa harus menunggu menjelang waktu ujian tiba.

Saudara-saudari yang terkasih, bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk belajar salah satu keutamaan menjadi murid Yesus dengan meneladan lima gadis yang bijaksana. Mereka selalu “berjaga-jaga dan siap sedia” menyediakan minyak agar pelita mereka tetap menyala kapan pun dan dalam situasi apa pun. Pelita tersebut melambangkan cahaya kebaikan yang bisa bermanfaat bagi semua orang. Cahayanya hendaknya terus menyala seperti dalam doa Jadikanlah Aku Pembawa Damai: “Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih. Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan. Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.” 

Untuk semuanya itu, kita diminta untuk selalu siap menyediakan minyak sebagai bahan bakarnya. Minyak ini adalah keutamaan-keutamaan kristiani, yakni pengampunan, kemurahan hati, ketulusan, dan cinta kasih. Minyak ini memampukan kita untuk mengobarkan api cahaya kebaikan bagi siapa pun, kapan pun, dan dalam situasi apa pun. Sebagaimana lima gadis bijaksana yang selalu menyimpan minyak untuk pelita yang mereka bawa, demikian juga kita sebagai para murid Kristus harus selalu memiliki keutamaan-keutamaan kristiani tersebut dalam setiap langkah hidup kita.