Jeritan Keadilan dalam Surat Yakobus (6)

242

Seruan Yakobus sekarang

Situasi yang dikecam Yakobus tidak unik. Beberapa nabi Israel sudah mengecam keadaan buruk yang serupa. Pengalaman Yakobus tidak asing juga bagi masyarakat kita sekarang. Keadaan zaman Yakobus tentu bukan tepat sama dengan keadaan zaman kita. Dunia sekarang lebih maju berkat perkembangan berabad-abad yang diilhami juga oleh para nabi Israel, oleh semangat Yesus, juga oleh surat Yakobus.

Namun, yang tumbuh bukan hanya gandum, tetapi juga lalang. Masalah yang melatarbelakangi Yak. 5:1-6 (konsentrasi kepemilikan atau penguasaan lahan dalam tangan sedikit orang yang menjadi beban berat bagi buruh tani) sedang berlangsung juga di negeri kita. Hak buruh tani/perkebunan hanya terlindung di atas kertas dan bukan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Perusahaan nasional dan lebih lagi multinasional seenaknya memindah-mindahkan modalnya dari suatu tempat ke tempat lain, berminat akan tenaga kerja yang pada momen itu paling menguntungkan, tetapi dengan demikian mereka meninggalkan massa yang menganggur di mana-mana.

Lebih mudah bagi kelompok bermodal besar untuk mendapat tambahan kredit besar daripada bagi usaha kecil untuk mendapat kredit mini. Kalau yang terakhir ini tidak mampu membayar bunga dan melunasi kredit pada waktunya, lembaga-lembaga keuangan yang rakus dengan segera menelan sisa kepunyaan – tanah, bangunan, kendaraan – yang masih tersisa pada mereka yang sudah lemah.

Aktualitas pertama surat Yakobus ialah bahwa surat yang peka akan keadaan dan masalah sosial pada zamannya ini mendorong pembaca modern untuk membaca firman tanpa menutup mata pada kenyataan masyarakatnya sendiri, tetapi sebaliknya berani melihat problem sosial-ekonomi yang sedang menyusahkan sebagian masyarakat sekarang. Yakobus menantang kita untuk membuka mata, telinga, dan hati bagi kesusahan, derita, dan teriakan orang banyak yang saat ini melarat, dan untuk menyingkapkan juga sisi sebaliknya, yakni pameran kemewahan serta obsesi menambah kekayaan yang membuat makin terasanya, atau bahkan mengakibatkan, kesusahan banyak orang.

Keyakinan terdalam yang ditanamkan oleh Yakobus ialah bahwa Allah tidak menerima dan tidak membiarkan keadaan yang miring di dunia kita. Kepercayaan kepada Yesus yang memperkenalkan Allah yang mulia, tidak mengizinkan kita untuk menerima saja diskriminasi, marginalisasi, dan pemerasan yang terjadi di dunia, sebab Allah sendiri tidak menerimanya dan bekerja untuk membalikkannya. Sebagai pembaca modern, kita mungkin mengalami kesulitan dengan tekanan Yakobus pada saat akhir, entah saat kematian atau hari pengadilan. Bagi Yakobus dan jemaatnya, saat akhir itu tampak sebagai suatu kenyataan yang dekat, nyata, dan sangat menentukan. Surat ini membantu kita untuk tidak mengusir akhirat dari kesadaran kita. Momen yang tidak bisa dielakkan itu membalikkan nilai dari banyak hal yang kita lakukan dan alami dalam kehidupan ini.

Namun, sidang pembaca Yakobus tidak dibiarkan melipat tangan sambil menunggu saat Allah akan membalikkan dan memecahkan semuanya bagi mereka. Keyakinan akan tindakan keadilan Tuhan yang terakhir mengubah hidup sekarang. Penilaian akhir Allah memberi kita suatu nilai sekarang: meyakinkan orang kecil yang dipandang hina dan ditindas akan nilainya yang tinggi dan menumbuhkan suatu harga diri yang memberi gerak baru kepada hidupnya.

Kepercayaan itu menjaganya dari salah langkah, entah itu memberontak dengan rasa dendam, mati-matian berusaha untuk ikut menempuh jalan seperti orang kaya, atau sebaliknya, tenggelam dalam nasibnya dengan penuh rasa pahit dan putus asa. Kepercayaan akan keadilan Tuhan memberi landasan untuk menghadapi masalah-masalah hidupnya dan menemukan jalan keluar yang adil pula. Di sini berlaku juga prinsip Yakobus bahwa kepercayaan harus menjadi tampak dalam tingkah laku yang baru.

Masalah lain bagi pembaca sekarang adalah perspektif suram yang ditawarkan Yakobus kepada orang kaya. Hampir tidak disajikan jalan alternatif yang positif bagi mereka. Mereka akan lenyap seperti bunga, hilang seperti uap, dihakimi tanpa belas kasihan, menangis dan meratap atas sengsara yang menimpa mereka pada hari penyembelihan. Apakah nubuat celaka seperti ini masih sungguh-sungguh dapat membawa hiburan bagi orang-orang yang miskin dan ditindas sekarang? Apakah Yakobus memang tidak melihat lagi jalan keluar sedikit pun bagi orang kaya? Apakah bahasa keras Yakobus tidak bisa dibaca sebagai shock therapy bagi orang kaya yang masih dapat disapa dan mau berubah? Pembaca modern akan cenderung membacanya demikian, sebab telah menyaksikan bagaimana bahasa peringatan para nabi dan rasul telah mampu membawa perubahan pada sebagian orang kaya sepanjang sejarah.

Selalu ada orang kaya yang menanggapi ajakan untuk mengikuti Tuhan dan kehendak-Nya (“jika Tuhan menghendaki”), yang terbuka untuk disadarkan akan apa yang buruk dalam bisnis mereka, dan akhirnya melakukan yang lebih baik, berhenti mendiskriminasi yang lemah, menyeret orang benar ke pengadilan, dan mulai berusaha memenuhi seluruh hukum Taurat dengan mengasihi sesama seperti dirinya sendiri. Pendek kata, peringatan keras Yakobus akan kehancuran orang kaya bersama milik mereka dapat membantu mereka untuk menjadi sadar akan praktik ketidakadilan sehingga tidak terus terjerat dalam bujukan dan belenggu kekayaan yang merugikan orang lain.

Penggunaan harta dengan cara yang tak menjadikannya berkarat, bagi Yakobus, sama dengan cara Allah menggunakannya, yakni memberikan kekayaan semesta alam teristimewa kepada mereka yang selama ini kurang kebagian atau bahkan diperas. Dengan cara itu, manusia mengabdi kepada Allah menurut Yak. 1:27, “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka.”***

Daftar Pustaka

Alonso Schökel, Luis, “James 5,2 and 4:6,” Biblica 56 (1975): 73.

Hartin, Patrick J., “Come now, you rich, weep and wail…” (James 5:1-6), Journal for Theology for Southern Africa 84 (1993).

Klijn, A.F.J., De Brief van Jakobus, De Prediking van het Nieuwe Testament, Nijkerk: Kallenbach, 1992.

Maynard-Reid, Pedrito U., Poverty and wealth in James, Maryknoll: Orbis, 1987.

Vries, E. de, Jakobus: Een praktische Bijbelverklaring, TST, Kampen: Kok, 1996.