Makna Tangisan Yesus

Kamis, 23 November 2017 – Hari Biasa Pekan XXXIII

367

Lukas 19:41-44

Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”

***

Menangis adalah sebuah ungkapan yang sungguh mendalam ketika kita tidak kuasa lagi menahan emosi, kesedihan, ketakutan, kesendirian, kesakitan, kekecewaan, kegagalan, kesalahan, atau hal lainnya. Kadang ketika tidak ada kata yang terucap, tidak ada orang yang membantu, tidak ada solusi yang didapat, dan tidak ada lagi ungkapan yang menghibur, menangis menjadi satu-satunya ekspresi yang terlihat. Sayangnya, menangis lalu sering diidentikkan dengan kelemahan dan kerapuhan.

Dalam dunia patriarkat, tabu hukumnya bagi seorang laki-laki untuk menangis. Laki-laki tidak boleh menangis! Ia harus kuat, tahan sedih, tahan sakit, tahan banting, dan tahan segala-galanya. Laki-laki dipaksa untuk menyangkal sebuah kenyataan yang sudah melekat sewaktu lahir, seolah-olah sewaktu lahir hanya bayi perempuan yang menangis, sedangkan bayi laki-laki malah tertawa. Kenyataan yang tidak dapat dibantah menunjukkan bahwa menangis adalah hal pertama yang dilakukan oleh seorang anak manusia (baik laki-laki maupun perempuan) ketika yang bersangkutan lahir ke dunia.

Bacaan Injil secara sentimental mengisahkan bagaimana Yesus juga melakukan apa yang sering kita lakukan, yakni menangis. Dalam kisah ini, sisi kemanusiaan Yesus sangat menonjol. Ia sungguh berempati dan sungguh mengekspresikan perasaan-Nya yang mendalam atas kekerasan hati umat di Yerusalem. Banyak peringatan dan tanda-tanda sudah diberitahukan kepada mereka agar mereka bertobat dan hanya mengandalkan Tuhan, tetapi mereka tidak peduli. Mereka juga sudah diingatkan berkali-kali agar membuka diri terhadap karya keselamatan yang sedang dikerjakan oleh Allah, tetapi mereka tetap saja tidak mengindahkan peringatan tersebut.

Harus diingat, menangis bukanlah ungkapan kekalahan Yesus terhadap perbuatan manusia. Yang ditunjukkan Yesus adalah sebuah ungkapan empati dan kesedihan yang mendalam melihat ketegaran hati mereka. Yesus tidak ingin umat-Nya binasa oleh dosa dan kejahatan.

Bagi Yesus, menangis bukanlah ungkapan yang terakhir, sebab sesudah itu masih ada “peristiwa salib.” Melalui salib, Yesus membayar semua ketegaran hati manusia. Salib adalah ekspresi sekaligus bentuk konkret pengorbanan Yesus yang paling dalam atas dosa-dosa manusia. Kita ingat bahwa ketika Yesus memanggul salib menuju Golgota, ada sejumlah perempuan Yerusalem yang menangisi diri-Nya. Melihat itu, Yesus lalu menasihati mereka, “Jangan menangisi Aku, tapi tangisilah dirimu dan anak-anakmu.”

Dengan demikian, bukan hanya kaum perempuan, kaum laki-laki pun berhak untuk menangis. Semua orang perlu menangis ketika hidup mereka jauh dari Tuhan, ketika mereka melukai hati orang lain, ketika mereka tidak mengindahkan nasihat dari orang lain, juga ketika hati mereka terlalu keras bagi Tuhan dan orang yang mereka cintai.

Saudara-saudari sekalian, semoga kita berani menangisi diri kita sendiri atas segala kesalahan dan ketegaran hati kita.