Kerendahan Hati dalam Berjaga-jaga

Sabtu, 2 Desember 2017 – Hari Biasa Pekan XXXIV

35

Lukas 21: 34-36

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”

***

Beberapa waktu lalu saya pergi ke rumah duka di daerah Jelambar, Jakarta untuk memimpin misa tutup peti seorang umat. Di sana ada banyak umat lain dan sanak saudara yang hadir untuk menemani dan berjaga-jaga. Saya berada di sana sampai jam dua belas malam bersama dengan beberapa umat. Saat merefleksikan momen tersebut, saya menemukan tiga hal yang terjadi di dalam tindakan berjaga-jaga, yaitu kerendahan hati, pengorbanan, dan kebersamaan.

Kerendahan hati menjadi nilai yang hadir di sana karena umat yang ada terdiri dari berbagai kalangan dan berasal dari berbagai tempat. Mereka bisa saja tidak mau mengikuti misa tutup peti karena jarak antara rumah mereka dan rumah duka begitu jauh. Namun, mengabaikan hal itu, mereka berkenan hadir untuk berdoa dan menguatkan keluarga yang berduka. Pengorbanan juga tampak karena mereka rela memberikan waktu yang mereka miliki. Kebersamaan terjadi karena segenap warga lingkungan hadir di situ untuk bersama-sama berdoa. Kebersamaan ini melambangkan Gereja yang tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan umat.

Injil hari ini mengajak kita untuk berjaga-jaga menyongsong kehadiran Tuhan. Oleh karena itu, kerendahan hati, pengorbanan diri, dan kebersamaan menjadi penting bagi kita agar tugas berjaga-jaga tersebut dapat kita laksanakan dengan baik. Kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan keberadaan orang lain untuk menopang dan menemani kita. Bersediakah kita berlaku rendah hati, penuh pengorbanan, dan mengedepankan kebersamaan?