Menantikan Tuhan dengan Pertobatan

Minggu, 3 Desember 2017 – Hari Minggu Adven I

44

Markus 13:33-37

“Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!”

***

Pada hari ini umat kristiani memulai hari-hari perenungannya akan kedatangan sang Penebus. Perenungan ini sebetulnya secara historis telah dipersiapkan dalam warta Perjanjian Lama. Yesaya, misalnya, sudah melukiskan penghayatan dan kerinduan mendalam umat Perjanjian Lama dalam seruannya, “Ya Tuhan, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah ‘Penebus kami’ sejak dahulu kala … Kembalilah oleh karena hamba-hamba-Mu, oleh karena suku-suku milik kepunyaan-Mu!” (Yes. 63:16b-17).

Seruan tersebut menceritakan tiga hal penting. Pertama, kobaran pengharapan akan kedatangan Allah dan pengharapan agar Allah tidak meninggalkan mereka. Hal ini didasari oleh kesadaran mendalam akan kesatuan yang tak terpisahkan antara umat Perjanjian Lama dan Allah sendiri. Model relasi yang dihayati umat adalah relasi saling memiliki. Allah memiliki mereka sebagai umat-Nya, dan umat Israel menyadari Allah sebagai pemilik mereka. Di luar ikatan dengan Allah, mereka tidak mungkin dapat hidup dan bertahan.

Kedua, model relasi saling memiliki tersebut tidak persis sama dengan kepemilikan yang bernuasa materialistik, seperti orang yang memiliki suatu benda. Kepemilikan yang dihayati adalah kepemilikan yang bermakna kekeluargaan dan yang berakar dalam relasi cinta kasih yang intim. Hal ini terlihat dalam penghayatan Israel yang menyebut Allah bukan sekadar sebagai sang pemilik, tetapi sebagai seorang Bapa, Tuan, dan Penebus.

Ketiga, karena itulah bangsa Israel memiliki keistimewaan dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Kedatangan Allah dihayati sebagai pengalaman istimewa Israel atas Allah, dan sebagai sesuatu yang tidak dialami oleh bangsa-bangsa lain di mana pun. “Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang-orang yang menantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian” (Yes. 64:4). Kedatangan Allah sangat istimewa karena tidak pernah dibuat oleh “allah lain” terhadap umatnya.

Yang menarik, sejak Perjanjian Lama pun sudah disadari oleh Israel bahwa kerinduan yang mendalam akan kedatangan Tuhan harus dipersiapkan dengan rasa penyesalan yang mendalam, rasa bersalah, serta ingatan akan ketidaksetiaan di masa lalu dan kejatuhan dalam dosa yang dibuat oleh mereka sendiri terhadap Allah.

Markus, sang Penginjil, melengkapi semangat dan kerinduan akan kedatangan Tuhan dengan memberi sebuah nasihat yang lebih kreatif, yakni agar kita berjaga-jaga. Panggilan untuk berjaga-jaga sebetulnya adalah panggilan untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan sendiri. Ajakan untuk senantiasa berjaga-jaga “sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba” (Mrk. 13:33) dan “sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang … supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur” (Mrk. 13:35-36) adalah pernyataan-pernyataan yang menegaskan kemendesakan situasi. Dalam masa penantian ini, kita harus mempersiapkan diri secara serius!

Berjaga-jaga tidak berarti duduk menanti secara pasif, melainkan suatu sikap yang aktif dan dinamis. Ini berarti kita harus melakukan aksi tertentu dan terus-menerus untuk menyambut Dia secara lebih bermakna. Kita diundang untuk membuka diri terhadap Dia yang datang menghadirkan diri-Nya. Aksi yang dimaksud tidak lain adalah pertobatan. Tentang hal ini, kita dapat belajar dari teladan umat Israel dalam Perjanjian Lama. Dalam rangka menantikan kedatangan Tuhan, mereka menyadari dan menyesali semua kesalahan serta ketidaksetiaan mereka, lalu mulai membangun pertobatan (Yes. 64:5-8).