Kekerasan dalam Rumah Tangga: Menengok Keluarga Abraham (4)

16

Hagar dan Ismael diusir (Kej. 21:8-21)

Ternyata Sara kemudian mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Abraham memberi nama anaknya yang baru lahir itu Ishak (Kej. 21:3).[1] Ishak semakin bertambah besar. Ketika sudah waktunya anak itu disapih, Abraham mengadakan perjamuan besar untuknya. Sementara Abraham dan Sara beserta dengan orang-orangnya sedang dalam perjamuan, Ishak dan Ismael bermain bersama. Sara melihat kedua anak itu bermain. Saat itulah timbul dalam pikirannya gagasan untuk menyingkirkan anak budaknya itu.

Anak itu tidak akan menjadi ahli waris Abraham. Kalau anak itu tetap tinggal bersama mereka, mungkin Abraham akan memberikan juga warisan kepadanya, sebab bagaimanapun juga Ismael adalah anak Abraham yang sah menurut hukum. Jika demikian, bagian warisan Ishak akan berkurang. Sara berusaha agar segala milik Abraham menjadi bagian Ishak. Karena itu, ia berusaha menyingkirkan Hagar dan anaknya.

Sara tidak dapat bertindak sendiri karena ia tidak memiliki kuasa. Kekuasaan tertinggi ada di tangan Abraham. Ia pun lalu mendekati Abraham dan membujuknya agar mengusir Hagar dan anaknya. “Usul” Sara untuk mengusir Hagar dan Ismael membuat Abraham sebal. Bagaimanapun Ismael adalah anaknya juga. Sara jugalah yang mengusulkan agar ia mengawini Hagar supaya mereka mendapat keturunan. Namun, kini ketika Sara sendiri sudah mempunyai anak, ia malah menginginkan agar Ismael disingkirkan.

Dalam suasana hati yang demikian Allah menjumpai Abraham. Menurut-Nya, Abraham tidak perlu kesal mendengar kata-kata Sara tersebut. Sebaliknya, ia harus mendengarkan dan menuruti perkataan istrinya itu. Ini berarti Abraham harus mengusir Hagar dan Ismael dari rumahnya, “sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.” Tentang Ismael, Abraham tidak perlu mengkhawatirkannya. Tuhan berjanji bahwa Ia akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tuhan menjanjikan hal ini karena Ismael juga adalah anak Abraham. Sebagai anak Abraham, ia mendapatkan juga berkat yang diberikan Tuhan kepada sang ayah.

Abraham tidak mengucapkan sepatah kata pun menanggapi pernyataan Tuhan. Dalam diamnya, ia taat melaksanakan perintah Tuhan yang baginya sulit untuk diterima. Dapat dibayangkan betapa berat hati Abraham karena harus mengusir anaknya sendiri.

Pada keesokan harinya, ketika hari masih pagi, Abraham menyiapkan sendiri bekal berupa roti dan air sekirbat yang kemudian diberikannya kepada Hagar. Ia lalu menyuruh Hagar pergi dengan membawa Ismael. Berapa lama Hagar akan bertahan hidup dengan bekal itu? Bagaimana nasib keduanya nanti? Pertanyaan-pertanyaan ini mengganggu dan membuat Abraham risau. Namun, ia melakukannya karena Tuhan sendiri telah menyetujui usul Sara untuk mengusir Hagar dan anaknya.

Tidak dikatakan bagaimana reaksi Hagar pada waktu itu. Dia memang tidak dapat berbuat lain kecuali menuruti perkataan tuannya. Di rumah Abraham, dia adalah budak, dan bagaimanapun juga harus taat kepada tuannya. Sekarang pun ia mengikuti perkataan tuannya itu, yang sekaligus adalah juga suaminya. Ia meninggalkan rumah Abraham dan pergi mengembara di padang gurun Bersyeba.

Kesulitan besar harus dihadapi Hagar ketika persediaan air yang dibawanya habis. Mereka harus menghadapi bahaya mati kelaparan. Orang tidak akan dapat bertahan lama di padang gurun tanpa persediaan air yang cukup. Hagar masih dapat bertahan, tetapi anaknya mungkin tidak. Anak itu benar-benar dalam bahaya kematian. Hagar meninggalkan Ismael di bawah semak-semak, lalu duduk agak jauh dari situ. Anak itu akan mati dan Hagar tidak tega melihatnya. Ia hanya menangisinya tanpa dapat menolongnya.

Allah melihat kesulitan dan bahaya yang dihadapi oleh Hagar dan anaknya. Dari langit Malaikat Allah berseru kepada Hagar bahwa ia tidak perlu takut. Allah telah mendengar rintihan anaknya yang hampir mati itu. Anak itu tidak akan mati karena Tuhan menjaganya. Tuhan menjaga anak itu karena Ia sudah berjanji kepada Abraham untuk membuat Ismael menjadi bangsa yang besar. Tuhan tidak akan mengingkari janji-Nya itu.

Ketika mengangkat matanya, tiba-tiba saja Hagar melihat sebuah mata air. Ia pun lari ke sana, mengisi kirbatnya dengan air, lalu kembali kepada anaknya dan memberinya minum. Demikianlah Hagar dan anaknya diselamatkan Tuhan. Tuhan menyelamatkan mereka karena kesetiaan-Nya terhadap janji yang telah diucapkan-Nya kepada Abraham.

Hagar dan Ismael menetap di padang gurun Paran, yang terletak di sebelah utara Semenanjung Sinai. Anak itu bertambah besar dan menjadi seorang pemanah. Semua ini terjadi karena Tuhan menyertainya. Ketika anak itu telah dewasa, ibunya “mengambil seorang istri baginya” dari tanah Mesir, tanah kelahiran ibunya.

(Bersambung)

 

[1] Makna nama ini diterangkan di Kej. 21:6. Nama “Ishak” berkaitan dengan kata “sakhaq” (tertawa), dan berarti “(Tuhan) akan (melihat dengan) tertawa.” Artinya, Tuhan akan bersikap baik (melindungi) terhadapnya. Ishak menyebabkan Abraham, Sara, dan orang-orang yang melihat Sara tertawa. Abraham dan Sara tertawa melihat diri mereka sendiri, dan orang-orang yang melihat mereka pun tertawa larut dalam kegembiraan bersama. Mereka “tertawa karena aku,” artinya “tertawa karena kebahagiaanku dan mereka mengucapkan selamat atas kebahagiaanku.”