Kristus, Tunas yang Istimewa

Selasa, 5 Desember 2017 – Hari Biasa Pekan I Adven

34

Lukas 10:21-24

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.”

Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

***

Pada hari ketiga Masa Adven ini, Nabi Yesaya masih secara metaforis melukiskan keagungan dan keunggulan sang Penebus yang akan datang (bacaan pertama hari ini, Yes. 11:1-10). Sang Penebus digambarkan sebagai sebuah tunas istimewa yang muncul dari tunggul Isai. Gambaran ini hendak menegaskan bahwa Dia yang akan datang adalah bagian utuh dari sejarah penyelamatan yang dikerjakan Allah atas umat manusia melalui sejarah Israel.

Ia merendahkan diri-Nya dan menjadi yang terkecil. Biarpun Ia tidak diperhitungkan oleh gegap gempita sejarah hebat bangsa Israel, tetapi dari sana Ia akan bertumbuh dan menunjukkan pengaruhnya secara sangat luar biasa dan menentukan. Ia bertumbuh menjadi “pohon baru” di tengah-tengah sejarah Israel. Dia yang akan datang merupakan kebaruan sejarah keselamatan itu sendiri.

Sentralitas, spirit, dan kebaruan yang dibawa sosok ini diberi tekanan yang sangat mendalam. Hal ini tampak dalam penggambaran Yesaya tentang identitas kekudusan dan potret keunggulan sang Tunas. Ia dikatakan penuh dengan hikmat dan pengertian yang berasal dari Tuhan, penuh roh takut akan Tuhan, membersihkan dunia dari kefasikan, menghakimi dengan adil dan jujur, dan teguh terhadap kebenaran dan kesetiaan.

Keunggulan sang Tunas dalam bidang kepemimpinan digambarkan dengan pernyataan bahwa kedatangan-Nya membangkitkan perdamaian, keamanan, dan pembebasan dari suasana-suasana keterancaman dan permusuhan. Metafora seperti serigala akan tinggal bersama domba, macan tutul akan berbaring di samping kambing, dan seterusnya adalah gambaran tentang perubahan besar yang akan dibawa olehnya.

Sementara itu, dalam bacaan Injil digambarkan Kristus yang menyadari, merenungkan, dan mensyukuri secara mendalam misteri kehendak Bapa. Ia mensyukuri dan memuji keagungan serta keunikan kehendak Bapa di surga. Tugas perutusan Kristus untuk memimpin pembaruan sejarah dimulai dengan kehendak Bapa agar Ia hadir ke dunia, menjadi yang terkecil dan tidak diperhitungkan oleh gegap gempita sejarah. “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.”

Yesus bergembira dan memuji Bapa karena memperkenalkan dan mengutus Dia ke dunia dengan cara seperti itu. Ia memahami bahwa setiap pembaruan harus dimulai dengan menjadi kecil, hina, dan menderita sama seperti manusia, yakni agar pembaruan itu dimulai dari akarnya.

Bacaan-bacaan hari ini dengan demikian mengajak kita untuk menghayati Masa Adven sebagai kesempatan untuk turut turun bersama Kristus, dan masuk dalam titik kehidupan yang paling dilupakan dan dihindari oleh kebanyakan orang. Dari sanalah solidaritas dengan yang miskin dan lemah, serta perdamaian dengan sesama dialami secara lebih nyata.