Kristus dan Ekaristi bagi Segala Bangsa

Rabu, 6 Desember 2017 – Hari Biasa Pekan I Adven

30

Matius 15:29-37

Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel. Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.”

Kata murid-murid-Nya kepada-Nya: “Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh.

***

Nabi Yesaya masih melanjutkan warta persiapan kedatangan sang Penebus dalam nubuatnya tentang kedudukan penting “Yerusalem/Gunung Sion” dalam kaitannya dengan Allah dan karya penyelamatan-Nya bagi Israel (bacaan pertama hari ini, Yes. 25:6-10a). Ia berseru, “Tuhan semesta alam akan menyediakan di Gunung Sion ini bagi segala bangsa suatu perjamuan dengan masakan bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya” (Yes. 25:6).

Allah Israel akan memulai sebuah “ekaristi historis” bagi bangsa-bangsa. Di atas Gunung Sion, Allah juga digambarkan sebagai seorang pembebas, pembawa kedamaian dan keamanan bagi bangsa-bangsa. Ia melenyapkan kesedihan, ketakutan, kesengsaraan, duka, dan perkabungan; Ia juga melenyapkan segala dosa dan maut sebagai puncak seluruh kehancuran manusia dalam sejarah.

Itulah gambaran tentang “bobot terdalam” dari kedatangan sang Penebus, inti karya keselamatan yang dikerjakan Allah, sekaligus sukacita paling mendasar dalam hidup manusia. Kedudukan Gunung Sion, sentralitas peran Yerusalem dan karya-karya Allah semuanya berpusat pada Dia yang datang sebagai pembangun persekutuan, pembebas ulung, dan penyelamat manusia dari maut dan dosa.

Kebaikan Allah sebagai sang Pembebas Ulung diceritakan lebih lanjut oleh Matius dalam kisah tentang Yesus yang menyembuhkan banyak orang sakit dan memberi makan empat ribu orang. Aktivitas Yesus dengan sendirinya menunjukkan bahwa Dia adalah sang Pembebas dan Pemberi Keselamatan. Pembebasan dan keselamatan yang diberitakan Yesus dialami secara konkret dalam peristiwa sehari-hari di mana Allah membebaskan manusia dari hal-hal yang membelenggu mereka, seperti tidak dapat melihat, tidak dapat berbicara, tidak dapat mendengar, tidak sehat secara fisik dan kejiwaan, dan sebagainya.

Kuasa memberi makan banyak orang menegaskan nubuat yang sebelumnya disampaikan oleh Yesaya bahwa kedatangan-Nya akan “membuat perjamuan besar di gunung Sion bagi bangsa-bangsa yang mau datang kepada Allah.” Demikianlah, Ekaristi menjadi “perjamuan penghimpun” bagi segala bangsa yang mencari Allah.

Bacaan-bacaan hari ini dengan begitu menegaskan tentang dasar yang benar dari sukacita iman yang harus dihidupi sepanjang masa penantian ini. Membatasi sukacita pada hal-hal yang bersifat fisik adalah langkah yang keliru. Kita kita harus bergerak kepada penghayatan yang lebih mendalam tentang arti kehadiran “Dia yang Akan Datang.”

Yesus adalah pemersatu dan penyelamat segala bangsa dalam sebuah “perjamuan pembebasan” yang akan dipimpin sendiri oleh-Nya. Ia menyelenggarakan Ekaristi yang penuh dengan sukacita sebagai pembebasan dalam arti yang lebih konkret: yang buta melihat, yang sedih bergembira, yang sakit disembuhkan, yang bisu berbicara, dan yang meninggal dibangkitkan.