Diam di Salib

Rabu, 13 Desember 2017 – Peringatan Wajib Santa Lusia

142

Matius 11:28-30

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

***

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat.” Ajakan Yesus ini mengingatkan saya pada khotbah tentang Sabda Bahagia yang disampaikan-Nya di sebuah bukit. Dalam gambaran saya, situasinya cukup mirip. Ketika mewartakan Sabda Bahagia, Yesus tampil di atas bukit sebagai seorang Guru yang penuh wibawa. Sementara itu, dalam Injil hari ini, Yesus tampil di atas bukit sebagai seorang Guru yang dijagal di kayu salib! Meskipun sama-sama di atas bukit, namun kata-kata Yesus menjadi sungguh bermakna di kayu salib.

Di hadapan Yesus yang tersalib dan yang mengajak kita untuk datang kepada-Nya, marilah kita hadir dan mengarahkan hati kita kepada sabda-Nya.

“Tuhan, aku ingin diam di hadapan-Mu, agar aku dapat terbebas dari diriku. Berikanlah kembali kepadaku diam itu. Sejenak aku ingin meletakkan semua keinginanku, semua rencanaku, semua kegembiraanku, semua kesedihanku.

Dari kedalaman hati, aku mau Kaubicara, tinggal di sana, berada dalam diriku, di sekelilingku, di atasku, dan di bawahku. Sejenak aku ingin mencinta-Mu tanpa syarat dan prasyarat apa pun, seadanya, tanpa memandang layakkah aku, terlepas dari apa saja yang menghalangiku mencintai-Mu.

Aku mau kebungkamanku, kata-kataku, dan perbuatanku, dan penderitaanku, dan harapanku, dan cintaku, menyatu dalam diamku di hadirat-Mu. Aku tak ingin mengerjakan apa pun, kecuali menerima, mengambil apa yang Kauberikan, membuka diri untuk semua yang Kaukerjakan bagiku.

Tuhan, bersabdalah sepatah kata saja maka akan ringanlah jiwaku” (G.P. Sindhunata. Dari Jurang yang Dalam. Yogyakarta: Penerbit Boekoe Tjap Petroek, 2014).