Yohanes Pembaptis dan Pewartaannya menurut Matius (5)

170

Yohanes Pembaptis dibunuh

Yohanes Pembaptis ditampilkan terakhir kali oleh Matius dalam kisah kemartirannya (Mat. 14:1-12). Di sini peran Herodes Antipas diberikan penjelasan yang cukup panjang. Dia sebelumnya menjebloskan Yohanes ke dalam penjara. Namun, dia tidak segera mengeksekusi Yohanes karena takut pada orang banyak yang menganggap Yohanes sebagai nabi (Mat. 4:12; 11:12). Yohanes dipenjarakan karena mengkritik perkawinan Herodes Antipas dengan Herodias, istri saudaranya sendiri, sebagai sesuatu yang tidak sah (bdk. Im. 18:16; 20:21).

Peran Herodes Antipas dalam kemartiran Yohanes diawali dengan kisah pesta ulang tahunnya. Dalam pesta ini ada banyak tamu yang diundang. Putri Herodes yang menurut Yosefus Flavius bernama Salome menari. Tariannya menyenangkan hati Herodes karena tamu-tamunya terhibur. Itulah sebabnya, Herodes berjanji untuk memberikan apa pun yang diminta oleh putrinya (bdk. Est. 5:2-3).

Setelah dihasut oleh ibunya, putri Herodes meminta kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam. Yohanes akhirnya dieksekusi mati dengan cara dipenggal. Mayatnya lalu dikuburkan oleh murid-muridnya, seperti yang kelak terjadi pada mayat Yesus. Yohanes dikuburkan oleh murid-muridnya, seperti juga Yesus akan dikuburkan oleh Yusuf dari Arimatea yang diidentifikasikan oleh Matius sebagai seorang murid Yesus (Mat. 14:12; 27:57).

Kemartiran Yohanes, seorang nabi yang berani, jelas berfungsi sebagai perlambang bagi apa yang akan dialami oleh Yesus sendiri.[1] Keragu-raguan Herodes Antipas untuk segera mengeksekusi Yohanes Pembaptis (karena takut terhadap orang banyak yang menganggap Yohanes nabi) mengantisipasi ketakutan imam-imam kepala menangkap Yesus karena orang banyak juga menganggap-Nya sebagai nabi (Mat. 21:46; bdk 21:26; 26:5). Jadi, kisah kematian Yohanes mempersiapkan para pembaca bagi apa yang akan terjadi pada diri Yesus.

Nabi Yohanes Pembaptis

Dari uraian di atas, kita kiranya sudah sedikit mengenal sosok Yohanes Pembaptis dan pewartaannya menurut Matius. Penampilannya mirip dengan seorang nabi. Ia memakai jubah bulu unta, ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan. Pesan pewartaannya juga menyerupai seorang nabi yang umumnya mewartakan pertobatan (Yes. 1:27; Yer. 5:3; Yeh. 14:6).

Dia adalah seorang nabi yang diutus mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus. Persiapan dilakukannya dengan mengajak umat untuk bertobat. Dia mengajak para pendengarnya untuk menyadari dosa-dosa mereka dan memberi diri mereka dibaptis supaya dibebaskan dari kemurkaan Allah yang akan segera datang. Para pendengar diajaknya juga untuk menghasilkan dan memperlihatkan buah pertobatan dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari.

Di Sungai Yordan, Nabi Yohanes Pembaptis juga mewartakan kedatangan Yesus sebagai Mesias. Baginya, Yesus yang datang kemudian lebih berkuasa dibandingkan dirinya. Yesus yang lebih berkuasa ini akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api yang menandai datangnya akhir zaman. Pada akhir zaman kelak, Yesus Kristus akan berperan sebagai Hakim yang mengadili semua orang dan semua bangsa (Mat. 25:31-46).***

 

Daftar Pustaka

Byrne, Brendan. Lifting the Burden: Reading Matthew’s Gospel in the Church Today. Collegeville: Liturgical Press, 1991.

Davies, Margaret. Matthew. Sheffield: Sheffield Phoenix Press, 2009.

Gardner, Richard B. Matthew. Scottdale, Pennyslvania: Herald Press, 1991.

Gundry, Robert H. Matthew. Grand Rapids: Eerdmans, 19982.

Harrington, Daniel J. The Gospel of Matthew. Collegeville: Liturgical Press, 1991.

Senior, Donald. The Gospel of Matthew. Nashville: Abingdon Press, 1997.

Taylor, Joane E. “Baptism” dalam Katharine Doob Sakenfeld (eds.), The New Interpreter’s Dictionary of the Bible. Nashville: Abingdon Press, 2006

Witherington III,  Ben.  Matthew. Georgia: Smyth & Helwys, 2006.

 

[1] Donald Senior, The Gospel of Matthew (Nashville: Abingdon Press, 1997), 127