Air yang Mematikan, Menghidupkan, dan Menyucikan (4)

Makna Air dalam Alkitab

97

Lambang kefanaan dan kebinasaan

Secara spontan kita mengaitkan air dengan hidup, tetapi ternyata dalam Alkitab, air yang sifatnya cair dan encer juga melambangkan kelemahan, kefanaan, hidup yang rapuh dan cepat lewat. Ketika hati bangsa Israel menjadi amat sangat tawar, dikatakan: “Hati bangsa itu meleleh dan menjadi air” (terjemahan harfiah Yos. 7:5b). Di puncak penderitaannya pemazmur menyerukan: “Seperti air aku tercurah” (Mzm. 22:14). Air yang mengalir dapat menunjuk kepada apa yang lewat dan tidak akan kembali (Ayb. 11:16). Demikian juga dikatakan: “Kita pasti mati, kita seperti air yang tercurah ke bumi, yang tidak terkumpulkan” (2Sam. 14:14; juga Mzm. 58:7).

Selain melambangkan kelemahan dan kefanaan, air juga berasosiasi dengan kekuatan yang dahsyat dan tidak dapat ditahan, seperti deru ombak laut atau derasnya sungai yang pada waktu hujan terjun ke bawah dan menghanyutkan segala sesuatu yang ada di jalannya (Mat. 7:27). Kedahsyatan air bagi Israel sering menjadi lambang murka Allah (Hos. 5:10). Amarah-Nya yang mengelilingi seseorang seperti air yang membuat nafas kehidupan tersendat (Mzm. 88:17-18; 69:1-2). Inilah pengalaman sakratulmaut Nabi Yunus: “Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku” (Yun. 2:3). Seperti air, Allah dikatakan menerobos barisan musuh (1Taw. 14:11). Kedahsyatan Allah mengejar orang fasik bagaikan banjir (Ayb. 27:20).[1]

Kedahsyatan air mengingatkan akan samudra purba yang telah ditaklukkan oleh Allah pencipta, tetapi kembali digerakkan oleh-Nya sebagai sarana penghukuman pada zaman Nuh. Israel percaya bahwa kekuatan air yang kaotis itu bukan suatu kuasa independen, tetapi takluk kepada kedaulatan Allah yang telah berjanji tidak akan menenggelamkan kembali seluruh bumi ke dalam samudra. Meskipun demikian, Allah selalu dapat menggunakan kedahsyatan air untuk tindakan dan penindakan yang lebih terbatas. Hal itu dilakukan-Nya ketika Ia menyelamatkan umat-Nya melalui Laut Teberau yang dibelah dua, bukan hanya untuk menyelamatkan umat Israel, tetapi juga untuk menjebak dan menenggelamkan para penindas mereka.

Dalam Perjanjian Baru, air sebagai kekuatan kaotis muncul kembali dalam kitab Wahyu, misalnya dalam banyaknya air yang menjadi tempat duduk sang pelacur besar, Kota Roma (Why. 17:1, 15; bdk. juga 12:15; lebih positif dalam 14:2; 19:6); dan tampak pula dalam kisah-kisah Injil ketika danau mengamuk saat para murid menyeberanginya. Dalam cerita-cerita ini, kedahsyatan air bukan lagi sarana untuk menghukum, melainkan tanda untuk menyadarkan murid-murid bahwa Yesus yang berjalan di atas air dan meredakan gelombang (Mrk. 6:49-51; 4:39-41) adalah Tuhan atas segala kekuatan yang berusaha membinasakan itu. Paulus pun mengandaikan daya pembinasaan air ketika ia mengartikan baptisan dalam Kristus secara kiasan: pada saat seseorang ditenggelamkan dalam air baptis, manusia lama dengan dosa-dosanya mati dan dikuburkan bersama Kristus (Rm. 6:3-4).

(Bersambung)

[1]     Clement & Fabry, ‘mayim’, in: Theological Dictionary of the Old Testament, Vol. VIII, Grand Rapids: Eerdmans, 1997, pp. 267-89.