Anugerah Terindah bagi Dunia

Sabtu, 6 Januari 2018 – Hari Biasa Masa Natal

40

Lukas 3:23-38

Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli, anak Matat, anak Lewi, anak Malkhi, anak Yanai, anak Yusuf, anak Matica, anak Amos, anak Nahum, anak Hesli, anak Nagai, anak Maat, anak Matica, anak Simei, anak Yosekh, anak Yoda, anak Yohanan, anak Resa, anak Zerubabel, anak Sealtiel, anak Neri, anak Malkhi, anak Adi, anak Kosam, anak Elmadam, anak Er, anak Yesua, anak Eliezer, anak Yorim, anak Matat, anak Lewi, anak Simeon, anak Yehuda, anak Yusuf, anak Yonam, anak Elyakim, anak Melea, anak Mina, anak Matata, anak Natan, anak Daud, anak Isai, anak Obed, anak Boas, anak Salmon, anak Nahason, anak Aminadab, anak Admin, anak Arni, anak Hezron, anak Peres, anak Yehuda, anak Yakub, anak Ishak, anak Abraham, anak Terah, anak Nahor, anak Serug, anak Rehu, anak Peleg, anak Eber, anak Salmon, anak Kenan, anak Arpakhsad, anak Sem, anak Nuh, anak Lamekh, anak Metusalah, anak Henokh, anak Yared, anak Mahalaleel, anak Kenan, anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah.

***

Begitu mengetahui bahwa Injil yang dibacakan hari ini adalah silsilah Yesus, bisa dipastikan banyak umat akan langsung menggerutu dalam hati. Alasan pertama, silsilah Yesus adalah perikop yang panjang. Umat harus siap-siap berdiri lama dan merasakan kaki pegal-pegal. Alasan kedua, perikop ini melulu berisi nama yang banyak di antaranya tidak dikenal. Mendengarkan pembacaan nama demi nama dirasa kurang bermakna dan berfaedah. Yang ketiga, mereka yang rajin membaca Alkitab pasti tahu bahwa dalam Injil Matius ada juga silsilah Yesus (Mat. 1:1-17), tetapi sangat berbeda dengan versi Lukas. Mendengarkan pembacaan silsilah Yesus bagi mereka hanya menambah kebingungan bagaimana perbedaan itu bisa dijelaskan.

Kali ini kita hanya akan berfokus pada silsilah Yesus menurut Lukas. Lukas menyusun silsilah ini mengikuti kebiasaan dalam budaya Greco-Romawi, yang sering mengikutsertakan nama-nama pahlawan dan bahkan dewa dalam suatu silsilah, dengan tujuan menegaskan kredibilitas orang yang bersangkutan. Demikianlah di kalangan leluhur Yesus tercakup pula nama-nama besar, seperti Daud, Yakub, Ishak, Abraham, dan Adam sebagai puncaknya.

Keberadaan Daud menunjukkan bahwa Yesus adalah ahli waris kerajaan hamba terkasih Allah tersebut, sekaligus pemenuhan janji Allah kepadanya (2Sam. 7:1-17). Hal ini sudah ditegaskan oleh Malaikat Gabriel ketika menjumpai Maria (Luk. 1:32). Sementara itu, keberadaan Abraham menunjukkan kesinambungan antara Yesus dan janji Allah kepada leluhur bangsa Israel itu di masa silam (bdk. Luk. 1:55; Kej. 17:7).

Sosok yang disebut terakhir adalah Adam. Dengan menyebut nama Adam, Lukas hendak menggarisbawahi peran penting Yesus dalam sejarah umat manusia. Yesus adalah keturunan Adam. Dialah Adam yang baru atau Adam yang kedua. Adam yang pertama mengalami kegagalan, sebab dengan mudah jatuh ke dalam dosa dengan membawa serta seluruh umat manusia bersamanya. Adam yang kedua membawa pemulihan dan keselamatan bagi setiap insan. Bukan kebetulan bahwa sesudah perikop ini Lukas bercerita tentang kisah pencobaan di padang gurun yang menunjukkan kemenangan Yesus atas Iblis (Luk. 4:1-13).

Yang paling penting dari semuanya, Yesus di sini dinyatakan sebagai Anak Allah. Sebelumnya Malaikat Gabriel sudah  berkata kepada Maria bahwa: “Anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35). Ketika Yesus dibaptis, Allah sendiri juga menyatakan demikian: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk. 3:22). Melalui silsilah, status Yesus sebagai Anak Allah ditegaskan kembali.

Demikianlah, silsilah Yesus yang sering dianggap membosankan oleh banyak pembaca Kitab Suci ternyata memiliki makna yang sangat mendalam. Dengannya kita diajak agar jangan pernah meragukan Dia. Yesus sangat terpercaya. Kredibilitas-Nya tidak diragukan lagi, baik di mata manusia maupun di hadapan Allah. Dengan kuasa yang dimiliki-Nya, Ia menghadirkan keselamatan bagi semua orang, sehingga kedatangan-Nya pantas disambut dengan sukacita oleh siapa pun juga. Yesus, tidak salah lagi, adalah anugerah terindah bagi dunia ini.