Pembaptisan Yesus

Senin, 8 Januari 2018 – Pesta Pembaptisan Tuhan

64

Markus 1:7-11

Inilah yang diberitakannya: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

***

Hari ini kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Orang Yahudi berduyun-duyun pergi ke Sungai Yordan untuk dibaptis Yohanes, dan Yesus ada di antara mereka. Seperti yang lain, Yesus pun akhirnya menerima baptisan. Hal ini sangat mengherankan, dan dalam arti tertentu problematis. Pertama, yang membaptis mestinya lebih berkuasa dari yang dibaptis. Bagaimana mungkin Yesus merelakan diri dibaptis Yohanes? Bukankah Ia jauh lebih berkuasa darinya? Bukankah Yohanes sendiri menyatakan ketidaklayakan dirinya di hadapan sang Mesias (Mrk. 1:7-8)? Kedua, baptis adalah tanda pertobatan atas dosa (Mrk. 1:4-5). Karena Yesus tidak berdosa, untuk apa Ia dibaptis?

Yesus sebenarnya tidak perlu dibaptis. Namun, Ia sendiri menghendaki hal itu sebagai bentuk solidaritas diri-Nya dengan situasi manusia yang senantiasa diliputi oleh dosa, penderitaan, dan maut. Solidaritas inilah yang kelak membawa diri-Nya ke kayu salib. Baptisan yang diterima Yesus mengantisipasi penderitaan yang akan Ia jalani. Dalam tradisi Yahudi, masuk ke dalam air merupakan lambang kematian (Mzm. 69:2-3; 124:4-5; Yun. 2:2-5), dan Yesus sendiri nanti juga menyebut baptisan sebagai kiasan untuk kematian (Mrk. 10:38).

Dengan menerima baptisan, Yesus menunjukkan bahwa diri-Nya adalah pengantara yang baik. Sebagai pengantara yang menghubungkan manusia dengan Bapa, Ia tidak menjaga jarak, apalagi menjauh dari kita. Ia “terjun” ke dalam situasi manusia agar bisa mengerti dan merasakan sendiri apa itu sedih, tangis, derita, dan sakit. Benarlah apa yang dikatakan Paulus, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor. 5:21).

Kerendahan hati Yesus mengguncang alam semesta, termasuk alam surgawi. Dinding yang menghalangi hubungan antara Allah dan manusia telah ditembus oleh-Nya. Karena itulah ketika Yesus keluar dari dalam air, Roh Kudus turun dari langit untuk menyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah yang terkasih. Roh Kudus kali ini mengambil rupa seperti burung merpati sebagai tanda dimulainya sesuatu yang baru (bdk. Nuh yang melepas burung merpati saat banjir sudah reda, Kej. 8:8-12). Dalam dan melalui Yesus, Allah memulai karya penciptaan yang baru.

Kita yang sudah dibaptis mengalami hal yang sama dengan Yesus. Saat air tercurah ke atas kepala kita, pada saat itulah Roh Kudus hadir dan menyatakan bahwa kita adalah anak Allah (bdk. Rm. 8:15-16; 1Yoh. 5:1). Status yang mulia ini tentunya sangat membanggakan, tetapi hendaknya kita sadar bahwa dengan itu kita pun memikul tugas perutusan dari Bapa, yakni untuk mewartakan kasih dan Kabar Baik dari-Nya kepada setiap insan.

Bagaimana kalau ada orang yang bahagia karena telah dibaptis, tetapi sesudah itu merasa cukup dan berpuas diri? Bagaimana kalau orang itu lalu melupakan tugas perutusannya, bahkan mulai hidup seenaknya dan merusak dirinya sendiri? Orang seperti itu kiranya menurunkan martabatnya sendiri dari “anak Allah” menjadi “anak yang hilang.”