Pergi ke Tempat Lain

Rabu, 10 Januari 2018 – Hari Biasa Pekan I

46

Markus 1:29-39

Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

***

Mukjizat penyembuhan dan pengusiran setan yang dilakukan Yesus mulai menarik perhatian banyak orang. Mereka berbondong-bondong mendatangi-Nya minta disembuhkan. Salah paham terjadi di sini. Yesus membuat mukjizat untuk mendukung pewartaan-Nya, tetapi masyarakat tampaknya lebih tertarik pada keajaiban daripada Kerajaan Allah. Yesus mereka pandang layaknya seorang dukun sakti.

Mudah saja bagi Yesus jika Ia mau mencari kemuliaan bagi diri-Nya sendiri. Manfaatkan saja kekaguman orang banyak itu agar mereka semakin memuja diri-Nya. Namun, nama besar dan puji-pujian orang ternyata tidak pernah membuat-Nya tergoda. Yesus senantiasa teguh memegang prinsip bahwa Ia diutus terutama untuk memberitakan Injil kepada sebanyak mungkin orang. Jadi, untuk apa Ia berlama-lama di Kapernaum?

Karenanya pergilah Yesus meninggalkan kota itu. Kabar Baik tidak boleh dibendung di satu tempat. Orang-orang di tempat lain juga rindu untuk mendengarkan dan merasakan sapaan Allah yang penuh kasih.

Sikap Yesus ini mesti diteladani oleh kita, para pewarta Injil masa kini. Semua orang Kristen diutus untuk mewartakan Kabar Baik, dan kita semua tahu, godaan untuk menyimpang dari tugas perutusan itu begitu besar. Ingat, tugas utama kita adalah mewartakan Injil, bukan membuat umat terpikat kepada kehebatan kita, lalu memanfaatkannya untuk mengeruk keuntungan bagi diri kita sendiri.