Ia Tidak Waras Lagi?

Sabtu, 20 Januari 2018 – Hari Biasa Pekan II

213

Markus 3:20-21

Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

***

Bacaan Injil hari ini singkat saja, tetapi siapa pun yang mendengarnya pasti akan terheran-heran dan merasa tidak nyaman. Kaum keluarga Yesus menganggap Dia tidak waras lagi? Banyak orang terkejut mendengarnya, apalagi setelah tahu bahwa yang dimaksud kaum keluarga itu tidak lain adalah ibu dan saudara-saudara-Nya (Mrk. 3:31). Maria bersikap demikian terhadap Yesus? Bagaimana mungkin itu terjadi? Maria adalah hamba Tuhan yang penuh iman; dia juga setia mendampingi putranya sampai akhir!

Sebelum menjadi gusar, baiklah kisah ini dipahami secara utuh. Saat itu, nama Yesus sudah terkenal di mana-mana, terutama berkat aneka macam mukjizat yang dibuat-Nya. Akibatnya, banyak orang “memburu” Yesus. Mereka mengerumuni Dia kapan saja, di mana saja, sehingga sekadar untuk makan pun Yesus tidak sempat.

Mendengar itu, keluarga Yesus yang ada di Nazaret menjadi prihatin. Mereka menganggap Yesus tidak waras lagi. Apa pun arti ketidakwarasan yang mereka pikirkan, yang jelas mereka bermaksud membawa Yesus pulang agar Ia dapat hidup lagi secara “normal” di tengah-tengah keluarga, tidak dikerumuni orang lagi, tidak dimusuhi para pemimpin agama lagi.

Karena itu, perikop ini mesti dipahami sebagai lanjutan konflik dalam Mrk. 2:1 – 3:6. Sekarang yang menentang Yesus adalah keluarga-Nya sendiri. Mereka tidak percaya kepada-Nya. Kalau Markus tidak mengecualikan Maria, itu karena – tidak seperti Lukas – ia tidak bermaksud menggambarkan Maria sebagai teladan iman. Bukan karena punya ikatan darah dengan Yesus, seseorang lalu otomatis beriman kepada-Nya. Nabi justru tidak dihormati oleh keluarganya sendiri. Sebaliknya, yang tidak punya hubungan dengan Yesus malah akan disebut saudara, saudari, dan ibu-Nya asalkan orang itu melakukan kehendak Allah.

Dengan demikian, perikop ini tidak bermaksud merendahkan dan melecehkan Maria. Markus justru ingin menekankan bahwa beriman itu perlu perjuangan. Semua orang mesti berjuang untuk memahami rencana-rencana Allah, tidak terkecuali Maria.