Menilai Kebaikan Orang Lain

Senin, 22 Januari 2018 – Hari Biasa Pekan III

149

Markus 3:22-30

Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: “Ia kerasukan Beelzebul,” dan: “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.” Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.

***

Kali ini Yesus dituduh oleh para ahli Taurat yang datang dari Yerusalem, pusat keagamaan orang Yahudi. Tidak main-main, Yesus dituduh kerasukan Beelzebul! Mengenai kemampuan Yesus mengusir roh jahat, mereka menuduh, “Dengan penghulu setan, Ia mengusir setan.” Mereka menuduh Yesus bersekongkol dengan Iblis dan menggunakan kuasa Iblis untuk melakukan penyembuhan bagi orang-orang yang kerasukan setan.

Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa pengusiran roh-roh jahat ini menjadi salah satu tanda datangnya Kerajaan Allah. Bahkan Yesus juga telah memberdayakan dan memberikan kuasa kepada kedua belas murid-Nya untuk mengusir roh-roh jahat (Mrk. 3:15). Namun, bisa jadi tuduhan tidak berdasar ini dimotivasi oleh rasa iri hati para ahli Taurat dari pusat (Yerusalem) terhadap sang pengkhotbah keliling dari Nazaret. Sebab, tidak seperti para ahli Taurat, Yesus telah mengajar dengan penuh kuasa dan wibawa (Mrk. 1:22). Roh-roh jahat bahkan tunduk kepada-Nya (Mrk. 1:27).

Menanggapi tuduhan ini, Yesus langsung memberikan jawaban. Bila tuduhan mereka benar, itu berarti terjadi perpecahan di antara Iblis dan para malaikatnya. Tujuan Iblis untuk menggagalkan misi Allah tidak akan berhasil, semata-mata disebabkan oleh ketidakkompakan di antara mereka sendiri. Lebih dari itu, Yesus menegaskan bahwa dengan menuduh diri-Nya mengusir roh jahat dengan kuasa penghulu setan, para ahli Taurat itu telah melakukan hujat terhadap Roh Kudus, suatu dosa yang tidak terampuni selamanya.

Tentu sering dipertanyakan para pendengar zaman sekarang, apa itu dosa menghujat Roh Kudus sehingga tidak terampuni selamanya? Katekismus Gereja Katolik no. 1864 menjelaskan, “Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, tetapi bersalah karena berbuat dosa kekal (Mrk. 3:29). Kerahiman Allah tidak mengenal batas; tetapi siapa yang dengan sengaja tidak bersedia menerima kerahiman Allah melalui penyesalan, ia menolak pengampunan dosa-dosanya dan keselamatan yang ditawarkan oleh Roh Kudus. Ketegaran hati itu dapat menyebabkan sikap yang tidak bersedia bertobat sampai pada saat kematian dan dapat menyebabkan kemusnahan abadi.” Sikap terus bertegar hati dan menolak kerahiman Allah inilah yang dimaksudkan sebagai dosa menghujat Roh Kudus.

Perikop Mrk. 3:22-30 juga memberi inspirasi bagaimana kita perlu mengakui dan mengapresiasi perbuatan baik orang lain. Kita harus meyakini bahwa Roh Kudus telah berkarya dan menggerakkannya, bukan malahan terjangkit penyakit iri hati yang ujung-ujungnya ber-negative thinking pada orang lain dengan menganggap kebaikan orang itu sebagai sekadar pencitraan, ada udang di baik batu, atau ada maunya. Kita justru patut bersyukur manakala semakin banyak orang digerakkan oleh Allah untuk melakukan karya-karya kebaikan dan belas kasih.