Sikap terhadap Orang-orang Berdosa

Sabtu, 17 Februari 2018 – Hari Sabtu Sesudah Rabu Abu

1934

Lukas 5:27-32

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

***

Kriteria yang ditetapkan Yesus untuk memilih murid pastilah membuat heran banyak orang. Bayangkan, setelah menunjuk sejumlah pengikut dari kalangan nelayan, Ia kini memanggil Lewi, si pemungut cukai! Orang dengan profesi ini jamak disebut pendosa karena umumnya tega memeras sesama demi keuntungan pribadi. Para pemungut cukai semakin dibenci karena bekerja bagi penjajah.

Lewi bersukacita dipanggil Yesus, lalu membuat perjamuan besar. Reaksi negatif muncul ketika Yesus dan para murid hadir di situ. Orang Farisi dan ahli Taurat mempertanyakan mengapa mereka mau makan bersama kaum pendosa. Itu adalah tindakan yang najis, memalukan, dan menjijikkan!

Menjawab kecaman itu, Yesus menegaskan tugas perutusan-Nya. Yang Ia tuju memang orang berdosa, bukan orang yang (merasa diri) benar. Ia mendekati orang berdosa bukan untuk mendukung perbuatan mereka, melainkan untuk menunjukkan bahwa mereka itu tetaplah manusia yang punya nilai. Mereka tidak dibuang dan diabaikan. Ia berbelas kasih terhadap mereka dan hendak mengajak mereka kembali kepada Bapa.

Marilah kita mengingat hal itu pada Masa Prapaskah ini. Bapa mengutus Putra-Nya kepada kita, orang-orang berdosa, sebab Ia rindu menantikan kita kembali kepada-Nya. Jangan ragu, segeralah bertobat. Dosa kita mungkin sangat besar, tetapi kasih dan pengampunan dari-Nya sudah pasti jauh lebih besar lagi.