Menanggapi Mukjizat Yesus

Kamis, 8 Maret 2018 – Hari Biasa Pekan III Prapaskah

94

Lukas 11:14-23

Pada suatu kali Yesus mengusir dari seorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Maka heranlah orang banyak. Tetapi ada di antara mereka yang berkata: “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya.

Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.”

***

Mukjizat Yesus selalu ditanggapi secara beragam. Ada yang kagum, ada yang sinis, ada juga yang membuat teori konspirasi. Itulah yang kita dengar dalam Injil hari ini. Setan membuat manusia bisu, tak mampu berbicara, tak sanggup mewartakan. Dengan mengusir setan, Yesus mengembalikan harkat seseorang sebagai makhluk sosial yang mampu berkomunikasi, juga terutama potensinya sebagai pewarta Kabar Baik.

Kagum adalah reaksi yang biasa dari orang banyak atas mukjizat Yesus. Iman mereka sifatnya massal. Mereka sebatas kagum dan melihat Yesus sebagai wonder worker saja. Namun, setidaknya mereka tidak mengkritik atau menolak Yesus.

Reaksi yang lain bersifat sinis. Mereka malah meminta Yesus membuat mukjizat lagi untuk mencobai Dia. Jelas Yesus tidak mau! Berbeda dengan para pembuat mukjizat lain, dulu dan kini, Yesus tidak pernah membuat mukjizat demi memamerkan kehebatan-Nya!

Reaksi yang paling keras datang dari mereka yang menuduh mukjizat Yesus sebagai kuasa Beelzebul, si penghulu setan. Tuduhan ini fatal dan merupakan teori konspirasi yang menyesatkan! Oleh karena itu, argumen Yesus selanjutnya berfokus pada kelompok ini.

Dengan dua ilustrasi Dia mematahkan teori mereka. Pertama, tidak mungkin warga negara/kerajaan atau anggota keluarga setan saling berperang. Itu akan menghancurkan mereka sendiri. Kedua, hanya Yesus sebagai “yang lebih kuat” yang mampu mengalahkan setan, si “orang kuat” yang sudah mendiami dan menguasai manusia. Pengusiran setan itu menjadi tanda bahwa Kerajaan Allah sedang hadir di dunia.

Yesus mengingatkan kita akan dua hal pokok. Pertama, mukjizat janganlah dicari demi mukjizat itu sendiri. Mukjizat hanyalah tanda bahwa Allah sedang berkarya dan merajai dunia dan manusia. Jangan sampai mukjizat hanya dipakai sebagai sarana memperbanyak anggota, memperbanyak modal, dan memperbanyak popularitas.

Kedua, iman kepada Yesus berarti komitmen untuk juga ikut dalam pewartaan Kabar Baik. Tidak ada sikap netral di dunia ini. Kita harus memilih untuk memihak Yesus atau tidak. Kalau memilih untuk memihak Dia, berarti kita juga memilih untuk ikut serta “mengumpulkan domba-domba bersama Dia.” Sebaliknya, mereka yang menjadi sandungan dan mengacaukan jemaat adalah orang-orang yang mungkin ber-KTP Kristen, tetapi sebenarnya pro-Setan!