Setiap Aturan Harus Mengungkapkan Kasih

Jumat, 9 Maret 2018 – Hari Biasa Pekan III Prapaskah

87

Markus 12:28b-34

Lalu seorang ahli Taurat datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

***

Setelah Yesus “mengamuk” di Bait Allah, konflik-Nya dengan para petinggi Yahudi semakin tajam. Mereka secara bergiliran datang dan berdebat dengan-Nya. Yesus selalu keluar sebagai pemenang debat. Namun, kaum Farisi tampaknya belum mau menyerah. Tidak tanggung-tanggung, kali ini seorang  ahli Taurat dikerahkan untuk bertanya tentang perintah yang paling utama.

Konon dari 613 aturan dalam Taurat, ada 365 larangan dan 248 perintah. Para rabi Yahudi sendiri sering berdiskusi tentang perintah yang terpenting atau aturan “induk” dari semua aturan itu. Rimba raya Hukum Taurat akan mudah menyesatkan dan melahirkan dua sikap ekstrem: “penyakit Farisi” yaitu kelewat teliti, atau menjadi liar alias tidak peduli.

Yesus menegaskan bahwa Hukum Taurat hanya dapat dipahami secara benar jika dibaca melalui lensa utama: kasih kepada Allah dan sesama! Dengan demikian, Yesus memberikan inti sari dan rangkuman Hukum Taurat dan pesan para nabi dalam “hukum kasih” ganda ini. Ia menyatukan dua rangkuman hukum dalam tradisi Yahudi, yaitu perintah untuk mencintai Allah (Ul. 6:5, bagian dari kredo Yahudi) dan perintah untuk mengasihi sesama (Im. 19:18, yang konon oleh Rabi Akiba juga dianggap sebagai “prinsip tertinggi dalam Taurat”).

Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kasih kepada sesama harus dijiwai dan didukung oleh kasih kepada Allah. Kedua-duanya hendaknya dijalankan bersama, bukan hanya salah satunya! Segenap kemauan, kerinduan, emosi, dan pikiran harus diarahkan kepada Allah dalam kesetiaan total. Kasih kepada sesama hendaknya dijalankan seperti seseorang mengasihi dirinya sendiri.

Kita pun kini hidup dengan pelbagai aturan dan hukum, baik hukum negara maupun aturan agama. Jika ditotal, jumlah hukum itu mungkin lebih banyak dari aturan Taurat. Syukurlah, Yesus memberikan pegangan. Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama harus menjadi orientasi dan penggerak dalam melaksanakan pelbagai aturan dan hukum tersebut. Semua aturan itu harus berdasarkan pada hukum kasih. Artinya, setiap aturan harus mengungkapkan kasih dan tidak bertentangan dengannya. Jelaslah bahwa tanpa dwikasih itu kita hanyalah robot pelaksana aturan, yang mungkin saja terlihat manut dan efektif, namun sebenarnya dangkal, tanpa hati, dan miskin motivasi.