Kesombongan Rohani

Sabtu, 10 Maret 2018 – Hari Biasa Pekan III Prapaskah

167

Lukas 18:9-14

Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

***

Cerita yang disampaikan Yesus hari ini mengingatkan kita bahwa kesalehan itu ambigu: bisa sejati, bisa palsu. Doa orang Farisi memperlihatkan betapa kesalehannya itu palsu. Dia sibuk dengan perbandingan dan kontras. Dia tidak dapat menerima rahmat atau pembenaran karena sibuk menghitung apa yang sudah dimilikinya.

Lebih parah lagi, dia mengklaim hak Allah untuk menilai dan mengadili. Bukan saja dia sibuk mendaftar jasanya sebagai “orang benar,” dia bahkan berani mengingatkan Allah akan keberdosaan si pemungut cukai! Dengan demikian, orang itu sudah membenarkan dirinya sendiri dan mengadili orang lain.

Sebaliknya, si pemungut cukai akhirnya dibenarkan karena ia mengakui bahwa dirinya membutuhkan belas kasih Allah. Dia mengakui dan membutuhkan rahmat Allah. Karena itulah dia diberi dan dibenarkan!

Dengan cerita ini, penginjil Lukas mengingatkan kita akan bahaya kesombongan rohani. Kasih akan Allah dapat dengan mudah menjadi kesombongan dan kebanggaan diri. Karisma dapat dengan cepat diklaim sebagai aset pribadi, bukan lagi karunia untuk membangun jemaat. Doa dapat berubah menjadi pameran kesombongan diri dan kesempatan mencela sesama.

Perumpamaan ini memperlihatkan juga mengapa doa menjadi salah satu tema Injil Lukas. Bagi Lukas, doa adalah iman yang menjadi nyata dalam hidup. Seluruh hidup seorang Kristen adalah doa. Doa bukanlah sekadar kewajiban agama, tetapi seluruh hidup dan sikap manusia di hadapan Allah! Doa memperlihatkan relasi seseorang dengan Allah. Di hadapan Allah, kita semua – seperti pemungut cukai – adalah pendosa yang dibenarkan oleh-Nya. Di hadapan Allah, kita hanya dapat bersyukur atau memohon. Biarlah Dia sendiri yang membenarkan dan merajai hidup kita.

Setelah membaca cerita ini, mungkin kita tergoda untuk bergumam, “Syukurlah, saya tidak sombong seperti orang Farisi itu!” Kalau demikian, Lukas sudah berhasil membuka kedok kita sebagai orang Farisi masa kini.