Anak Manusia Harus Ditinggikan

Minggu, 11 Maret 2018 – Hari Minggu Prapaskah IV

143

Yohanes 3:14-21

“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”

***

Anak Manusia harus ditinggikan seperti Musa meninggikan ular di padang gurun. Kisah Musa meninggikan ular menggambarkan patung ular tembaga yang harus dipancangkan di sebuah tongkat supaya setiap orang yang dipatuk ular dapat melihatnya dengan iman dan disembuhkan (bdk. Bil. 21:4-9).

Di padang gurun, Allah menjanjikan kepada orang Israel bahwa siapa pun yang memandang dengan iman patung ular tembaga akan menerima kehidupan secara fisik dan tidak akan mati. Demikian juga Anak Manusia ditinggikan di kayu salib supaya bisa membawa keselamatan. Penyaliban dipandang sebagai jalan menuju pemuliaan Yesus.

Ada satu hal menarik di sini. Kata kerja “meninggikan” dalam bahasa Yunani adalah hypsōsen. Kata ini dipakai dalam dua arti. Pertama, kata ini dipakai untuk Yesus yang ditinggikan di atas kayu salib (bdk. Yoh. 8:28; 12:32). Kedua, kata ini dipakai untuk Yesus yang ditinggikan ke dalam kemuliaan-Nya pada waktu Ia naik ke surga (Kis. 2:33; 5:31; Flp 2:9).

Jadi, ada dua kali peninggian dalam hidup Yesus, yakni peninggian di kayu salib dan peninggian ke dalam kemuliaan. Keduanya berhubungan sangat erat. Yang satu tidak bisa terjadi tanpa yang lain. Bagi Yesus, salib adalah jalan menuju kemuliaan. Jika Yesus mengelak dan menolak salib, maka tidak akan ada kemuliaan. Hal ini juga berlaku bagi setiap orang beriman. Jika kita mengelak dan menolak setiap bentuk penderitaan karena iman, kita tidak akan menikmati kemuliaan Allah.