Menyerahkan Diri kepada Allah

Rabu, 11 April 2018 – Peringatan Wajib Santo Stanislaus

70

Yohanes 3:16-21

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”

***

Penulis Kisah Para Rasul dalam bacaan pertama hari ini (Kis. 5:17-26) melukiskan tantangan, hambatan, dan kesulitan yang dialami oleh para rasul dalam pewartaan mereka tentang kebangkitan Kristus. Namun, yang menonjol dalam kisah-kisah tersebut justru semangat dan keberanian para rasul, juga kegigihan dan kemauan mereka untuk selalu bekerja sama.

Di balik kegigihan dan semangat berkobar-kobar yang ditunjukkan oleh para rasul, sebetulnya hendak ditegaskan tentang kemendesakan untuk menyerahkan diri atau mengikat diri dalam Kristus demi keselamatan dan kehidupan kekal. Pertobatan dan sikap berbalik kepada Allah dengan menyerahkan diri kepada Kristus adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar.

Sementara itu, bacaan Injil masih berbicara tentang percakapan antara Yesus dan Nikodemus. Kepada Nikodemus, Yesus menegaskan perlunya seseorang menyerahkan diri dalam ikatan dengan Allah melalui pembaptisan. Ia menyatakan, “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”