Ngurip-urip, Ngopeni, Nggemateni

Senin, 23 April 2018 – Hari Biasa Pekan IV Paskah

320

Yohanes 10:1-10

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”

***

Ada begitu banyak tanaman di depan kamar saya di seminari tempat saya bertugas. Setiap kali tanaman-tanaman tersebut menjadi tempat berlatih bagi para seminaris untuk merawat, memelihara, dan mencintai sesuatu. Setiap kali ada pelanggaran atau tindak indisipliner dalam hidup asrama, tidak jarang tanaman-tanaman itu menjadi tempat mereka berlatih: ya berlatih ketekunan, juga berlatih untuk memiliki hati dalam merawat, memelihara, menjaga, dan mencintai kehidupan.

Caranya pun beraneka ragam. Ada yang saya minta untuk menyiraminya setiap hari, setiap pagi. Yang lain saya minta untuk mencabut rumput liar (gulma) yang tumbuh di sekitar pot tanaman. Kadang-kadang ada juga yang saya minta untuk menggosok lumut di beberapa pot tanah liat, sebab lumut selalu muncul setiap kali musim hujan tiba. Demikianlah tanaman-tanaman itu menjadi tempat bagi saya dan para seminaris yang saya dampingi untuk berlatih menjaga, memelihara dan mencintai kehidupan. Ada ungkapan dalam bahasa Jawa yang dengan tepat menggambarkan hal itu, yakni ngurip-urip, ngopeni, nggemateni.

Injil Yohanes yang kita dengar hari ini merupakan satu kesatuan dengan teks Injil Yohanes yang kita dengar hari Minggu kemarin. Semuanya terangkai dalam satu kesatuan di mana Yesus berbicara soal Gembala yang Baik. Bacaan hari ini adalah bagian awalnya. Ada yang menarik di sini. Kualifikasi seorang gembala sejati atau gembala yang baik disampaikan dengan sangat detail dalam teks ini. Gembala yang sejati, menurut Yesus, adalah gembala yang tidak akan pernah meninggalkan domba-dombanya. Ia akan menuntun domba-domba itu keluar dari kandang. Para domba akan mengikuti sang gembala karena mereka mengenali suaranya. Akhirnya gembala itu akan menuntun segenap domba ke padang rumput yang hijau. Dengan kata lain, kualifikasi seorang gembala sejati adalah gembala yang memiliki kemampuan untuk ngurip-urip, ngopeni, lan nggemateni atau menjaga kehidupan, memeliharanya, dan mencintai kehidupan itu dengan sepenuh hati, begitu kira-kira terjemahannya.

Bukankah kita lebih senang membeli daripada memelihara? Bukankah kita lebih mudah untuk mengadakan sesuatu daripada merawatnya dengan penuh ketekunan pada hari-hari selanjutnya? Yang lebih parah lagi, banyak di antara kita yang ternyata lebih mudah merusak daripada menjaga, memelihara, dan mencintai sesuatu dengan sepenuh hati. Mari kita mohon rahmat agar dimampukan memiliki kualifikasi sebagai seorang gembala sejati dalam setiap perutusan dan panggilan hidup kita, dimampukan untuk ngurip-urip, ngopeni, lan nggemateni.