AQ

Rabu, 25 April 2018 – Pesta Santo Markus

88

Markus 16:15-20

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

***

Sekarang ini ada istilah yang disebut Adversity Quotient (AQ). AQ adalah istilah untuk menyebut kecerdasan seseorang yang ditentukan berdasarkan ketangguhan dan tingginya daya tahan orang itu terhadap aneka macam tantangan di dalam kehidupan. Dengan kata lain, orang yang tangguh dan tahan banting tergolong sebagai orang yang cerdas.

Kita telah mengenal beberapa bentuk kecerdasan dalam diri seseorang. Ada kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Namun, konon yang paling dibutuhkan zaman ini adalah mereka yang tangguh menghadapi aneka macam tantangan kehidupan, yakni orang-orang dengan AQ yang tinggi.

Daya tahan, ketangguhan, dan kemauan untuk bangkit kembali dari keterpurukan adalah keutamaan-keutamaan yang paling dibutuhkan oleh orang-orang zaman ini. Tentu ini tidak berarti bahwa bentuk-bentuk kecerdasan yang lain tidak penting. Namun, diyakini bahwa mereka yang pandai secara intelektual, emosional, dan spiritual pun tetap membutuhkan daya tahan yang tinggi agar bisa bertahan dalam kerasnya kehidupan zaman sekarang.

Hari ini kita merayakan Pesta Santo Markus, pengarang Injil. Kiprah dan arti penting Markus dalam pewartaan Kabar Gembira Yesus Kristus tidak diragukan lagi. Namun, yang menarik untuk direnungkan pada kesempatan ini adalah kepada siapa Injil Markus ini ditujukan.

Para ahli berpendapat bahwa Injil Markus ditulis sekitar tahun 60-70. Inilah Injil yang paling tua. Markus menuliskan Injilnya untuk jemaat yang pada waktu itu sedang mengalami penganiayaan hebat pada masa pemerintahan Kaisar Nero yang kejam.

Markus tidak hanya sekadar menulis Injil tanpa alasan. Ia ingin agar jemaat yang membaca Injilnya tetap kuat dan bertahan dalam iman meskipun mengalami penganiayaan yang hebat. Mereka harus meneladan Yesus Kristus yang mereka ikuti. Karena itu, menarik kalau bacaan yang kita dengar hari ini kita renungkan dengan memperhatikan konteks tersebut.

Injil hari ini berbicara tentang tanda-tanda orang yang percaya. Mereka akan mengusir setan-setan demi nama Yesus; mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka; mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangan atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.

“Percaya itu indah,” begitu lirik sebuah lagu rohani. Kepercayaan kepada Yesus melahirkan kekuatan untuk tetap bertahan dalam kehidupan yang sering kali tidak mudah. Dalam ilmu psikologi itulah kiranya yang disebut Adversity Quotient (AQ). Dalam kacamata hidup rohani, kita boleh meyakini bahwa AQ lahir berkat iman dan kepercayaan yang mendalam kepada Yesus. Selagi kita percaya, kita kuat karena Dia telah memanggul salib-Nya dan berjalan terlebih dahulu di depan kita. Karena itu, marilah kita berdoa kepada-Nya, “In Te confido,” yang artinya, “Ya Tuhan, kepada-Mu aku percaya.”