Menjadi Martir

Sabtu, 5 Mei 2018 – Hari Biasa Pekan V Paskah

236

Yohanes 15:18-21

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku.”

***

Dibenci adalah pengalaman yang tidak menyenangkan. Namun, setiap pengikut Yesus harus siap berhadapan dengan kebencian. Perikop ini tidak mengajak kita untuk menempatkan diri sebagai korban kebencian dan melegitimasi penolakan terhadap keberadaan Gereja di beberapa tempat. Di sini kita sebenarnya diajak untuk menjadi martir di dunia. Apa maksudnya?

Martir sering dipahami sebagai orang yang mati karena membela iman. Arti tersebut tidak keliru, tetapi makna asli kata “martir” perlu juga kita pahami. Kata “martir” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “membuktikan atau memberi kesaksian.” Penekanan dari kata martir adalah memberi kesaksian.

Konsekuensi memberi kesaksian bisa bermacam-macam: diterima, diabaikan, bisa juga ditolak. Oleh karena itu, jika saya mengatakan bahwa perikop ini mengajak kita menjadi martir, itu artinya kita diajak untuk memberi kesaksian tentang nilai-nilai Kerajaan Allah di lingkungan sekitar kita.

Nilai-nilai Kerajaan Allah yang diajarkan Yesus menawarkan hal yang berbeda dengan apa yang ditawarkan dunia. Dunia menawarkan kompetisi dan perselisihan; Yesus menawarkan kasih dan perdamaian. Dunia menawarkan kebencian; Yesus mengajak kita untuk memberikan pengampunan tanpa batas. Dunia mengatakan bahwa pemimpin itu orang yang memiliki kuasa dan otoritas; Yesus mengajarkan bahwa pemimpin adalah pelayan dari sesamanya. Dunia menawarkan kekerasan; Yesus menegaskan kelemahlembutan. Dunia menghargai harta duniawi sebagai yang utama; Yesus mengarahkan hidup kita pada harta surgawi. Masih ada banyak lagi yang bisa kita bandingkan antara apa yang ditawarkan dunia dan apa yang diajarkan Yesus.

Yesus berkata, “Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” Sebagai pengikut Yesus, kita tinggal dan hidup di dunia, tetapi cara hidup kita tidak sama dengan dunia. Penolakan dan kebencian dunia kepada kita bukan hanya karena kita pengikut Yesus, tetapi juga karena kita memberi kesaksian akan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam hidup sehari-hari. Jangan sampai hal itu membuat kita merasa takut. Kita justru harus merasa bangga karenanya. Mari kita menjadi martir-martir zaman ini!