Anak-anak Kecil dan Kerajaan Allah

Sabtu, 26 Mei 2018 – Peringatan Wajib Santo Filipus Neri

127

Markus 10:13-16

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.

***

Anak-anak memang selalu menarik. Tingkah lucu dan polos mereka membuat kita selalu senang. Hanya membayangkan anak-anak saja sudah mampu membuat kita tersenyum-senyum sendiri, apalagi kalau kita bertemu dan berinteraksi dengan mereka.

Ada sejumlah dokumentasi menarik berupa foto dan video menyangkut relasi Paus Fransiskus dengan anak-anak yang tersebar luas di media sosial. Misalnya saja video tentang seorang anak yang sedang dipangku oleh Paus, lalu mencoba membuka topi kecil yang dikenakannya. Ada juga video yang menggambarkan seorang anak yang dengan santai berjalan, lalu duduk di kursi Paus ketika dirinya sedang berpidato. Dalam semua foto atau video itu, Paus tidak pernah tampak marah atau jengkel terhadap anak-anak itu. Sebaliknya, ia tersenyum, tertawa, mengelus kepala anak-anak itu, atau merangkul dan mencium mereka.

Injil hari ini berkisah tentang orang-orang yang membawa anak-anak mereka kepada Yesus agar Ia berkenan memberkati mereka. Namun, apa yang terjadi? Para murid malah marah dan melarang mereka mendekati Yesus. Mungkin saja para murid tidak ingin Yesus terganggu oleh kehadiran anak-anak itu, apalagi dalam tradisi Yahudi, anak-anak sering kali dianggap tidak penting. Namun, sikap para murid bertentangan dengan sikap Yesus. Melihat tindakan para murid, Yesus ganti memarahi mereka. Menurut-Nya, justru orang seperti anak-anak itulah pemilik Kerajaan Allah. Ia pun kemudian memeluk dan memberkati anak-anak itu dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.

Keterkaitan antara anak-anak dan Kerajaan Allah begitu kuat. Yang pertama, untuk dapat memiliki Kerajaan Allah, kita harus seperti seorang anak kecil: polos, spontan, jujur, apa adanya, mau bertumbuh, mau belajar dan hidup dengan mempercayakan diri sepenuhnya kepada orang tua masing-masing. Sifat-sifat inilah yang juga harus kita miliki agar kita memiliki Kerajaan Allah.

Yang kedua, agar kita bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita harus menyambut kedatangannya seperti seorang anak kecil. Yang dimaksud adalah penyambutan yang penuh kegembiraan, kehangatan, dan cinta. Kerajaan Allah harus disambut demikian, sebab di sanalah masa depan kita.

Saudara-saudari sekalian, marilah kita mewujudkan Kerajaan Allah dengan penuh kegembiraan dan sukacita, lewat perbuatan-perbuatan kita yang kecil dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.