Berdoa dalam Roh Kudus

Sabtu, 2 Juni 2018 – Hari Biasa Pekan VIII

466

Yudas 1:17, 20b-25

Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus.

Bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.

Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya, Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

***

Pengajaran dari Surat Yudas kali ini amat mendasar dalam pengembangan hidup rohani kita. Kita diajak untuk mempunyai iman yang tangguh. Yudas menasihati kita untuk membangun diri di atas iman yang suci, iman yang tulus dan benar. Kita juga diajak untuk berdoa dalam Roh Kudus. Janganlah kita berdoa hanya berdasarkan dorongan atau desakan kebutuhan diri, tetapi hendaknya kita berdoa dalam Roh Kudus.

Bagaimana caranya berdoa dalam Roh Kudus? Yakni dengan berserah diri pada kehendak Bapa. Doa itu sifatnya rohani, tujuan utamanya adalah untuk membangun relasi dengan Allah. Doa yang dipanjatkan hanya demi kebutuhan manusia adalah doa yang salah kaprah. Ketika kita berdoa, hendaknya kita mendengarkan apa yang dikatakan Allah, jangan melulu kita yang berbicara kepada Allah.

Kalau hidup rohani kita terjaga, dengan mudah kita bisa memberi kesaksian tentang kebaikan. Sebaliknya, hidup rohani yang semu akan menjauhkan kita dari kebaikan dan justru memudahkan kita dalam berlalu tidak benar. Ketika tahu, kita malah berkata tidak tahu, semata-mata karena kita takut menyatakan kebenaran dan hanya mau mencari aman. Demikianlah hidup rohani yang semu mendorong kita berlaku tidak jujur.

Semakin erat relasi kita dengan Yesus, semakin besar kebaikan yang kita hadirkan. Semakin kita terlibat dalam pelayanan, semakin banyak kebaikan yang kita taburkan. Semakin kita mengerti firman Tuhan, semakin banyak buah yang dihasilkan dalam kehidupan ini.

Semoga demikian.