Kekayaan Iman

Rabu, 6 Juni 2018 – Hari Biasa Pekan IX

132

2 Timotius 1:1-3, 6-12

Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus, kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.

Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.

Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

***

Pada awal suratnya, Paulus memperkenalkan diri sebagai rasul Yesus Kristus. Ia menjadi rasul bukan karena kehendaknya sendiri, tetapi karena Allah yang menghendakinya. Allah mengangkatnya menjadi rasul dengan satu tugas, yaitu memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus. Allah mengasihi manusia, sehingga Ia mengutus Yesus, Anak-Nya, untuk menyelamatkan manusia dari kuasa dosa dan membawa mereka ke dalam hidup abadi.

Paulus adalah rasul Kristus. Selama menjalankan tugas untuk memberitakan karya penyelamatan Kristus, ia telah mengalami banyak penderitaan. Namun, Paulus menyatakan bahwa ia tidak merasa malu. Mengapa? Ia tahu kepada siapa ia percaya. Ia mengenal Yesus yang dipercayai dan dilayaninya. Ia tahu bahwa Kristus berkuasa untuk memelihara segala yang telah dipercayakan kepada-Nya sampai hari kedatangan Tuhan.

Karena itu, Paulus menasihati Timotius, yang menjadi percaya kepada Kristus berkat pewartaan Paulus, supaya ia memegang semua pengajaran yang didengarnya dari Paulus. Ia harus mempergunakan ajaran Paulus sebagai ajaran yang sehat, dan melakukannya dalam iman dan kasih dalam Kristus. Timotius harus memelihara ajaran iman yang telah diterimannya seperti memelihara harta yang indah. Allah telah mempercayakan harta iman itu kepada mereka melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam diri kita.

Saudara-saudari sekalian, manusia di dunia bekerja keras untuk mendapatkan harta duniawi, bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk anak cucunya. Orang tua menyekolahkan anak-anaknya di sekolah favorit supaya akhirnya mereka mendapat pekerjaan yang baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa selama di dunia manusia memerlukan harta duniawi untuk keperluan hidup. Bahkan, untuk melakukan kehendak Allah pun, misalnya mengasihi sesama, orang memerlukan uang.

Nah, kalau untuk keperluan hidup duniawi yang hanya sementara manusia mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran, lebih lagi untuk harta yang diperlukan bagi kehidupan abadi. Kita telah memiliki harta iman yang telah diwariskan oleh para rasul kepada kita. Kekayaan iman ini harus dirawat dengan mempelajarinya dan mengerjakannya, sehingga pada akhirnya kita dapat menikmati kehidupan abadi.

Lebih lanjut, orang beriman juga harus mewariskan kekayaan iman ini kepada anak cucu supaya mereka pun turut menikmati kehidupan abadi. Para orang tua juga perlu membantu anak-anak mereka supaya tidak hanya memperhatikan kehidupan di dunia saja, tetapi juga harus memperhatikan kehidupan yang akan mereka jalani sesudah kehidupan di dunia ini selesai.